Menjaga Aqidah Tauhid Umat Islam di Momen Nataru 2025/2026

MEDAN: koranmedan.com
Umat Islam di seluruh dunia diingatkan untuk menjaga aqidah iman dan ketauhidan atas keesaan Allah SWT di momen perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru (Nataru) 2026.
Hal itu disampaikan Al Ustadz Abdul Rasyid, SPd.I, MA dalam khutbah Jum’at (19/12/2025) di Masjid Darul Iman Jl. Bajak 2-H simpang Jl. Bajak IV Medan Amplas.
Peringatan itu diingatkannya merujuk pada Surat Al-Ikhlas yang termaktub dalam Al-Qur’an. “Katakan ya Muhammad, Allah itu Tuhan yang esa (satu). Allah tempat meminta segala makhluk. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tiada sesuatu pun yang menyerupai-Nya,” ucap Al Ustadz.
Lebih lanjut dijelaskan Al Ustadz, kedalaman makna Surat Al-Ikhlas terletak pada penegasan tauhid murni (keesaan Allah) secara mutlak, menolak segala bentuk kesyirikan, dan menjelaskan hakikat Allah SWT sebagai Dzat tunggal yang Maha Sempurna, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada yang setara dengan-Nya, yang membuahkan ketenangan batin dan kekuatan iman dalam diri seorang Muslim.
Makna Mendalam Setiap Ayat diterangkan Al Ustadz:
Qul Huwallahu Ahad (Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa): Menegaskan keesaan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya secara mutlak, bukan sekadar satu dalam hitungan.
Allahus Shamad (Allah tempat meminta segala sesuatu): Menunjukkan bahwa Allah adalah tujuan akhir dari segala kebutuhan, Dia tidak membutuhkan siapa pun, tetapi semua makhluk membutuhkan-Nya.
Lam Yalid Walam Yulad (Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan): Menolak anggapan bahwa Allah memiliki keturunan atau dilahirkan, karena sifat itu hanya ada pada makhluk yang lemah.
Walam Yakun Lahu Kufuwan Ahad (Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia): Menegaskan kesempurnaan Allah yang mutlak, tidak ada perbandingan atau kesamaan dengan makhluk ciptaan-Nya, bahkan dalam imajinasi sekalipun.
Implikasi Surat Al Ikhlas ini dalam kehidupan umat Islam disebutkan Al Ustadz adalah untuk memurnikan Ibadah: Mengajarkan untuk beribadah hanya karena Allah, bukan karena pujian manusia atau pamrih dunia.
“Selanjutnya adalah ketenangan hati: Membangun keyakinan bahwa segala urusan ada di tangan Allah, sehingga menumbuhkan ketenangan, tidak iri, dan tidak takut kepada selain Allah,” tegas Al Ustadz.
Kemudian, lanjut Al Ustadz bertujuan untuk melindungi iman ke-Islam-an dari Syirik:atau menyekutukan Allah.. Sekaligus memperkuat akidah agar tidak mudah tergoda menyamakan Allah dalam bentuk apapun.
Lebih daripada itu, terang Al Ustadz, adanya makna keberanian dan kejujuran. “Artinya memberikan energi moral untuk berkata benar dan berbuat baik karena hanya kepada Allah lah semata tempat bergantung.,” tegas Al Ustadz.
Secara keseluruhan, simpul Al Ustadz, Surat Al-Ikhlas adalah pondasi tauhid yang mengarahkan manusia untuk mengenal Allah secara benar, memurnikan penghambaan, dan mengaplikasikan keimanan tersebut dalam sikap hidup sehari-hari, dan menjadikannya sebagai tolok ukur dalam kedewasaan beriman kepada Allah SWT terutama dalam menyikapi perayaan Natal 25 Desember 2005 dan Tahun Baru 1 Januari 2026.
Al Ustadz juga mengutip Surat Surat Maryam ayat 90 yang menggambarkan betapa dahsyatnya kebenaran firman Allah yang hampir membuat langit pecah, bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh atas respons terhadap ucapan (klaim) bahwa Allah memiliki anak, menegaskan bahwa itu adalah perkataan yang sangat besar dan dusta. Ayat ini menekankan kebesaran dan keesaan Allah, serta betapa tercelanya menyekutukan Allah, tutup Al Ustadz Abdul Rasyid, SPd.I, MA dalam penghujung khutbahnya.*** (Zulmar)