Dr. M. Sontang Sihotang, S.Si, M.Si: Revolusi Air Halalan Thoyyiban Melalui Penyaringan Karbon Biomaterial Kenapa Tidak?
MEDAN: koranmedan.id
Revolusi Air Halalan Toyyiban adalah gerakan transformasi dalam pengelolaan, penyediaan, dan konsumsi air yang tidak hanya berfokus pada status halal secara hukum syariat, tetapi juga menekankan aspek thoyyib (kualitas, kebersihan, kesehatan, dan kebermanfaatan ekologis).
Di era modern, air tidak lagi cukup hanya berlabel halal, melainkan harus diproses secara higienis, bebas dari kontaminan berbahaya, serta dikelola secara etis dan berkelanjutan.
“Selama ini proses penjernihan air permukaan selalu menggunakan bahan kimia (sintesis) berupa tawas dan Poly Aluminium Chloride (PAC). Dalam perspektif Islam, konsep air bukan hanya “bersih” atau jernih tetapi harus halal, thoyyib, tidak membahayakan, tidak tercemar zat yang mudharat. Karena itu perlu revolusi teknologi penyaringan air berbasis karbon biomaterial alami dari campuran daun/biji kelor, daun bidara, tempurung kelapa, bambu, tandan buah sawit, biji asam jawa, kulit pisang, sekam padi, tepung tulang ikan, cangkang kerang/ciput,” ungkap Kepala Laboratorium Fisika Nuklir Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Ketua Jama’iyah Ahlith Thariqoh Almuktabaroh An-Nahdliyah (JATMAN) Provinsi Sumatera Utara Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si dalam percakapan dengan Koranmedan.id via selular, Senin (25/5/2026).
Dijelaskan Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, secara Islamic Manufacturing Process (IMP) setiap produk termasuk air harus memenuhi aspek halal, menggunakan teknologi ramah lingkungan, sustainable (keberlanjutan), sesuai syari’at dan bebas dari pencemaran. Melalui IMP itu komposisi ideal alat saring air terdiri dari lapisan kerikil, pasir silika, nano karbon biomaterial, kalsium fosfat tulang ikan, serat kelapa, zeolit dan membran biomassa.
“Dengan pemanfaatan karbon biomaterial lokal/tempatan dapat menurunkan biaya rawatan air, mengurangi impor bahan kimia, meningkatkan kesehatan masyarakat, membuka industri desa untuk pembuatan karbon aktif dari limbah tetumbuhan, menciptakan ekonomi hijau berbasis UMKM lembaga dan komunitas,” beber Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.
Selain itu, imbuhnya, masih diperoleh produk turunan berupa nano biochar (arang aktif), granular biofilter, koagulan organik, karbon aktif halal, membran biopolimer, filter air rumah tangga, dan tata kelola sistem air komunitas.
Disimpulkan Dr.Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, bahan sintesis kimia bukan satu-satunya solusi untuk penjernihan air. Indonesia memiliki kekayaan biomassa luar biasa yang mampu menjadi alternatif koagulan, flokulan, sedimentasi dan filtrasi alami lebih aman, halalan thoyyiban, dan berkelanjutan. “Karena air tidak hanya sekadar jernih tapi harus jadi amanah dari sang pencipta kehidupan,” tegas Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.
Ditambahkannya, air wajib memenuhi standar kesehatan, kaya akan mineral baik, bebas dari mikroplastik, logam berat, bakteri berbahaya, serta tidak membawa dampak buruk bagi tubuh manusia.
“Mengonsumsi air yang halalan thoyyiban menjamin metabolisme tubuh berjalan optimal dan memberikan ketenangan spiritual bagi umat Muslim,” pungkas Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.*** (Zulmar)
