Dedi Syahputera alias Bang Untung (foto) sedang memperlihatkan tata kerja budidaya maggot di pekarangan rumahnya.
Melihat Potensi Manggot Sebagai Pakan Ternak, Bang Untung Budidaya Maggot dari Limbah Catering PT INALUM
Catatan: Zul Anwar Ali Marbun, Wartawan Koranmedan id
Maggot (ulat/larva) dari telur lalat hitam BSF ( Black Soldier Fly) merupakan salah satu serangga sebagai agen biokonversi dengan memanfaatkan pengolahan sampah organik dan mengubahnya menjadi biomasa sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak/ikan.
“100 gram maggot mampu menghabiskan 250 gram sampah organik per 3 hari,” kata Dedi Syahputera atau biasa dipanggil Bang Untung Local Hero pembudidaya maggot mitra binaan PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM) di Kuala Tanjung Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batubara kepada penulis, Selasa (9/6/2026)
Pakan maggot, kata Untung sebagian besar ia peroleh dari limbah catering atau kantin perusahaan PT INALUM, disamping dari limbah pasar di sekitar Kuala Tanjung.
Menggeluti budidaya maggot bermula dari kesenangan berwirausaha ternak sembari mengelola usaha Panglong dan Yayasan Pendidikan.
“Kebetulan ada sedikit pekarangan di sekitar rumah, ya jadilah saya menekuni budidaya manggot sekalian ternak ayam dan ikan,” ungkap Untung seraya menyebutkan budidaya maggot yang ia tekuni tidak semata mencari untung secara ekonomi tapi lebih kepada kepedulian terhadap lingkungan dan meniadakan cost (biaya) pembelian pakan/pelet ternak karena telah ditutupi ketersediaan maggot yang melimpah.
“Alhamdulillah maggot beserta hasil ternak/ikan juga lebih banyak saya sumbangkan kepada warga sekitar sebagai bentuk dukungan pada ketahanan pangan dan gizi masyarakat,” tutur Untung bersyukur.
Dalam menekuni budidaya maggot, Dedi Syahputera alias Bang Untung pada 5 tahun lalu sempat difasilitasi atau di sekolahkan khusus oleh PT INALUM untuk pendalaman budidaya maggot di Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Selain itu PT INALUM juga memberi support untuk pengadaan peralatan dan perlengkapan budidaya maggot.
“Ke depan, saya berharap budidaya maggot yang saya kelola dapat menjadi rumah belajar bagi masyarakat guna mengatasi masalah limbah organik di lingkungan masing-masing warga. Selain tentunya juga dapat menutupi pengeluaran pembelian pakan/pelet untuk ternak bagi warga yang hobi berternak unggas atau ikan di pekarangan rumah,” beber Untung yang juga menjadikan budidaya maggot sebagai tambang amal/sedekah jariyah bagi diri dan keluarganya.
Sangat Potensial untuk Dikembangkan
Terpisah Dosen Biologi Fakultas Matemetika dan Ilmu Pengetahuan Alam Uiversitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Drs. Muhammad Zaidun Sofyan, M.Si di sela kegiatan Talkshow Focus Group Action Inovasi Produk Tata Kelola Limbah Cegah Stunting dan Kemiskinan Ekstrem di Aula Raja Inal Siregar lantai 2 Kantor Gubernur Sumut Jl. Pangeran Diponegoro 30 Medan, Kamis (24/8/2023) silam kepada Koranmedan.id mengakui, budidaya maggot sangat potensial dikembangkan individu warga sebagai kegiatan usaha maupun hobi karena tergolong mudah, murah dan lebih bergizi ketimbang membeli pelet untuk ternak.
Dijelaskan Zaidun Sofyan, pakan untuk maggot cukup dari sampah organik berasal dari hewan dan tumbuhan, seperti sayur-sayuran, buah-buahan yang membusuk, sisa nasi, daun kering dan sejenisnya. “Teknologi biokonversi bahan organik bisa menjadi salah satu solusi permasalahan sampah yang banyak terjadi dimana-mana sekaligus dapat memenuhi pakan ternak/ikan yang kaya akan protein,” jelas Zaidun Sofyan.
Dipaparkan Zaidun, untuk memulai budi daya bisa dimulai dari telur maggot. Saat ini telur maggot marak dijual di marketplace dengan harga berkisar Rp2.500/gram sampai Rp2,5 juta/kg.
“Tentu hal ini juga menjadi potensi ekonomi besar, karena pembudidaya maggot bisa fokus mengembangkan telur maggot ini lalu dijual,” terang Zaidun.
Biasanya, imbuh Zaidun, peternak ayam atau ikan kalau mengandalkan pelet enggak nutup harga. Solusinya kemudian dicampur maggot fresh, atau bisa dikeringkan dulu,” papar Zaidun seraya menyebut beternak ayam di rumah bisa tidak bau karena maggot juga doyan memakan kotoran ayam.
Zaidun menguraikan budidaya maggot memang tidak biasa karena bergelut dengan sampah dan tidak banyak dilirik. “Tapi dengan budidaya maggot perputaran ekonomi dan dampak positif bagi lingkungan cukup besar,” terangnya.
Kembali ke Bang Untung penggiat ternak maggot yang juga dikenal sebagai ketua dari berbagai komunitas seperti Ketua Yayasan Pendidikan Al Mukhlisin, Ketua Karang Taruna, dan Ketua Kelompok Tani Sari Larva Berdaya.
Sebagai Local Hero PT INALUM dari ring 1 masyarakat di sekitar Perusahaan yang berperan penting dalam pemberdayaan ekonomi, lingkungan, dan sosial masyarakat, bersama sama dengan PT INALUM menjalankan program CSR berkelanjutan dan berdampak positif bagi masyarakat.
Diakui sebutan “Local Hero PT INALUM” sangat pantas didapatkan Bang Untung. Betapa tidak dii tengah keterbatasan yang hanya lulusan SMP, ia mampu membangun sekolah dan mempengaruhi masyarakat di lingkungan sekitar untuk lebih peduli terhadap pendidikan anak-anak. Karena menurutnya, ilmu merupakan jendela kehidupan dan pendidikan anak-anak harus diperhatikan sedari mereka dini. Karena pemikiran itu pula, ia turut memberikan pendidikan gratis bagi keluarga kurang mampu.
Selain di dunia pendidikan, ia juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat. Bang Untung memang selalu untung Alhamdulillah barokah. Semoga.***
