Drs. Khairul Mahalli (tiga kiri) sedang bersama Alumni Jepang di sela Konferensi MAJECA/JAMECA Kuala Lumpur, Malaysia.
Konferensi MAJECA/JAMECA dan Korelasi dengan Indonesia
Catatan: Drs. Khairul Mahalli, Alumni Indonesia – Jepang/Ketua Umum ASDEKI
Editor: Zul Marbun, Wartawan Koranmedan com.id
Pergeseran geoekonomi dan disrupsi teknologi yang pesat sedang mem,bentuk kembali pola produksi, perdagangan, dan investasi regional. Konferensi Bersama MAJECA/MAJECA di Kuala Lumpur beberapa hari lalu menampilkan Malaysia, yang tetap menjadi salah satu tujuan paling menarik untuk pertumbuhan dan investasi di kawasan ASEAN. Sementara Jepang tetap menjadi mitra yang memiliki kedalaman, kepercayaan, dan orientasi jangka panjang yang terus dihargai dan dipilih oleh industri Malaysia.
Diketahui, Konferensi Gabungan MAJECA-JAMECA ke-43 terlaksana berkat upaya dan kerjasama yang luas dari penyelenggara bersamax Asosiasi Ekonomi Jepang-Malaysia (JAMECA), para pemangku kepentingan, tim handal dari Dinmaz Audio Visual Services, EQ Hotel & para penerjemah, peserta, dan terutama para mitra yakni:
Silverlake Axis Sdn Bhd
Press Metal Aluminium Holdings Bhd
AmBank Group
Scientex Berhad
Eco World Development Group Bhd
Pan Sarawak Holdings Bhd
IJM Corporation Bhd
TG Worldwide Sdn Bhd
Farlim Group (Malaysia) Bhd
YTL Corporation Bhd
Hotel Equatorial (M) Sdn Bhd
MAQO Engineering Sdn Bhd, dan lsinnya.
Konferensi Bersama MAJECA-JAMECA ke-43 yang berlangsung pada 1 September 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia mengusung tema “Malaysia-Japan Strategic Economic Partnership: Advancing Transformation, Deepening Partnerships, and Strengthening Resilience”.
Secara garis besar, kesimpulan dan poin utama dari konferensi ekonomi berkala antara Malaysia dan Jepang itu berfokus pada beberapa hal berikut:
1. Penguatan Ketahanan Rantai Pasok (Supply Chain Resilience)
Konferensi menyimpulkan bahwa ketahanan rantai pasok tidak bisa dicapai secara individual, melainkan memerlukan kemitraan tepercaya (trusted partnerships) serta investasi berkelanjutan pada manusia, pengetahuan, dan inovasi.
Ketahanan ini tidak hanya soal pengadaan material, tetapi juga keberlanjutan basis sumber daya yang mendukung aktivitas ekonomi secara luas, seperti energi, air, infrastruktur, dan modal manusia.
2. Diversifikasi dan Inovasi Bersama
Empat elemen kunci yang disepakati menjadi pilar masa depan hubungan ekonomi kedua negara adalah diversifikasi, inovasi, kemitraan, dan pengembangan sumber daya manusia.
Jepang dan Malaysia berkomitmen memanfaatkan kekuatan komplementer masing-masing—kekayaan sumber daya alam dan basis manufaktur Malaysia, dikombinasikan dengan teknologi canggih dan kapasitas riset Jepang—untuk menciptakan nilai baru yang tidak bisa dicapai sendirian.
3. Kolaborasi Strategis di Sektor Teknologi Masa Depan
Kedua pihak sepakat untuk memperdalam kerja sama dalam segmen teknologi tinggi dan transisi energi.
Fokus utamanya mencakup sektor semikonduktor, kecerdasan buatan (AI), infrastruktur digital, manufaktur tingkat lanjut (advanced manufacturing), serta energi hijau. Malaysia mendorong UKM lokal agar mampu berintegrasi ke dalam jaringan pemasok global melalui transfer teknologi dari perusahaan multinasional Jepang.
4. Peningkatan Nilai Perdagangan Bilateral
Menteri Investasi, Perdagangan, dan Industri Malaysia Datuk Seri Johari Abdul Ghani menyoroti bahwa perdagangan bilateral Malaysia-Jepang tumbuh positif sebesar 11,8% mencapai US$23,3 miliar pada periode Januari–Juli 2026. Konferensi ini mempertegas komitmen untuk tidak hanya memulihkan, tetapi melampaui level ambisi hubungan ekonomi masa lalu demi menghadapi kompleksitas ekonomi global.
Khusus bagi Indonesia, konferensi MAJECA/JAMECA memiliki korelasi yang sangat kuat dengan kepentingan ekonomi nasional.
Berikut beberapa bentuk korelasi strategisnya:
1. Kompetisi sekaligus Kolaborasi di Sektor Semikonduktor dan AI
Malaysia dan Indonesia saat ini sama-sama sedang gencar menarik investasi teknologi tinggi dari Jepang. Fokus JAMECA 2026 pada semikonduktor dan kecerdasan buatan (AI) mempertegas bahwa Jepang menjadikan Asia Tenggara sebagai pusat rantai pasok teknologi masa depan mereka. Bagi Indonesia, hal ini bisa menjadi pembanding kebijakan (benchmarking) sekaligus peluang kolaborasi regional (misalnya, Malaysia unggul di sektor pengujian/pengemasan cip (back-end), sementara Indonesia berpeluang menyuplai bahan baku mentah atau energi hijaunya).
2. Isu Kebijakan Tarif Global (Third-Country Excess Capacity)
Dalam konferensi tersebut, Menteri Perdagangan Malaysia menyoroti investigasi Amerika Serikat terkait kapasitas industri berlebih (excess capacity) yang mengalir melalui negara ketiga. Isu ini sangat berkorelasi dengan Indonesia. Sebagai sesama negara ASEAN, Indonesia juga berisiko terdampak jika produk-produk atau investasi dari negara tertentu (seperti Tiongkok) yang dirakit di Asia Tenggara dianggap oleh AS sebagai upaya “menghindari tarif”.
Kesimpulan JAMECA untuk memperkuat transparansi rantai pasok menjadi alarm bagi regulator di Indonesia agar lebih memperketat aturan Rules of Origin (asal-usul barang) ekspor.
3. Percepatan Transisi Energi Regional
Komitmen transisi energi hijau yang disepakati oleh Malaysia dan Jepang sejalan dengan target Net Zero Emission Indonesia. Jepang banyak mendanai proyek dekarbonisasi di ASEAN melalui inisiatif Asia Zero Emission Community (AZEC). Langkah Malaysia yang memperdalam kemitraan energi hijau dengan Jepang dalam JAMECA 2026 menunjukkan trend bahwa modal Jepang akan semakin selektif dan memprioritaskan proyek-proyek infrastruktur yang ramah lingkungan di Asia Tenggara, termasuk proyek transisi energi di Indonesia.
4. Integrasi Rantai Pasok ASEAN
Ketika Jepang dan Malaysia sepakat untuk mendiversifikasi dan memperkuat ketahanan rantai pasok (supply chain resilience), dampaknya akan mengalir ke negara tetangga. Banyak perusahaan multinasional Jepang mengadopsi strategi investasi terintegrasi di ASEAN (misalnya, suku cadang dibuat di Indonesia, dirakit di Malaysia, lalu diekspor). Menguatnya hubungan Malaysia-Jepang secara tidak langsung akan ikut menggerakkan roda rantai pasok industri otomotif dan elektronik Jepang yang ada di Indonesia.*** (War)
