Dari Kajian Subuh TGB Ahmad Sabban, Zikir Spiritualitas yang Tinggi Selamatkan Nabi Musa dari Kejaran Fir’aun
SIMALUNGUN: koranmedan.com.id
Dari kacamata tarekat dan tasawuf, kisah diselamatkannya Nabi Musa AS dari kejaran Firaun bukan sekadar peristiwa sejarah atau kemenangan militer lahiriah, melainkan simbolisasi dari pertempuran Zikir spiritual yang tinggi dari dalam diri setiap manusia, termasuk Nabi Musa AS.
Karena itu para sufi dan mursyid tarekat Khalidiyah Naqsabandiah memandang tokoh-tokoh dalam Al-Qur’an sebagai representasi sifat-sifat kejiwaan (isyarah sufi).
Hal itu diungkapkan Tuan Guru Batak (TGB) Syeikh Dr. H. Ahmad Sabban el Harmaniy Rajagukguk, MA pada kajian Subuh, Sabtu pagi (18/10/2026) di Masjid Syeikh Abdurrahnan Rajaguguk QS Komplek Serambi Babussalam Nagori Jawa Tongah Kecamatan Hatonduhan Kabupaten Simalungun.
Dari sisi tarekat, kata Ahmad Sabban, tentu ada alasan mengapa Allah menyelamatkan Nabi Musa dan menenggelamkan Firaun.
“Inilah yang namanya kemenangan Ruh (diwakili Musa) atas Nafsu Amarah (diwakili Firaun)
Dalam dunia tarekat, Firaun adalah simbol puncak dari Nafsu Amarah—nafsu yang merasa diri paling berkuasa, sombong, dan egois hingga berani berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Sementara Nabi Musa adalah simbol dari Ruh atau Kesadaran Spiritual yang murni.
Selamatnya Musa, lanjut TGB Ahmad Sabban, Allah ingin menunjukkan bahwa jika seorang salik (murid tarekat) sungguh-sungguh melakukan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs), maka Ruh dan cahaya keimanan yang ada di dalam dirinya pasti akan dimenangkan dan diselamatkan Allah dari cengkeraman belenggu hawa nafsu yang destruktif.
Selanjutnya, ungkap Tuan Guru Batak Ahmad Sabban, selamatnya Musa sebagai manifestasi Tawakal Total (Fana)
“Ketika Nabi Musa dan pengikutnya terpojok di tepi Laut Merah dengan pasukan Firaun di belakang mereka, secara logika lahiriah (syariat/sebab-akibat) mereka pasti binasa. Namun Nabi Musa berkata dengan penuh keyakinan: “Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku” Ini termajtub dalam Surat Asy-Syu’ara ayat 62,” ungkap TGB.
Artinya, imbuh TGB Ahmad Sabban, terkurungnya Musa di tepi Laut Merah bermakna ujian maqom tawakal tingkat tertinggi. Musa diselamatkan karena beliau telah mencapai kondisi fana—keadaan di mana kepasrahan kepada Allah telah menghilangkan rasa takut kepada makhluk.
“Pertolongan Allah (terbelahnya lautan) ketika Musa melemparkan tongkat menjadi iktibar atau bukti bahwa kepasrahan total (tawakal mutlak) akan selalu melahirkan jalan keluar spiritual yang tak masuk akal bagi logika manusia.
Demikian halnya ketika Sakaratul Maut, jika maqom kedekatan dengan Allah sudah menyatu menjadi rindu dan pasrah kepada Allah, sakitnya Sakaratul Maut tidak terasa lagi karena zikir La ilaha illallah sudah menyelamatkannya menuju Surganya Allah,” tutup TGB Ahmad Sabban yang sebelumnya juga mengupas terkait tahapan amalan syariat, hakikat dan Makrifat.*** (Zulmar)
