
ilustrasi
Catatan Zul Marbun, WKU
(Koranmedan.Online)
Tak Hanya di Tuban, Desa Miliarder Juga Ada di Kuningan Jawa Barat, Warga Borong 30 Motor dalam Sehari
Warga satu desa di Kuningan kini juga mendadak jadi miliarder. Hal itu setelah lahan dan bangunan rumah mereka kena gusuran alias dampak pembangunan mega proyek Waduk Kuningan.
Ada enam desa terdampak akibat pembangunan tersebut dan satu desa harus hijrah dan mencari lokasi baru berikut perangkat dan kantor desa.
Peristiwa bak di Tuban ini juga terjadi di Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Saat ditemui wartawan, Kades Kawungsari, Kusto mengatakan, kejadian di Tuban itu sama persis dengan yang terjadi di daerahnya.Tak Hanya di Tuban, Desa Miliarder Juga Ada di Kuningan, Warga Sudah Borong 300 Kendaraan Baru
“Di sana (Tuban), warganya mendapat ganti untung dari PT Pertamina dan di sini kami juga sama dapat ganti untung dari pembangunan Waduk Kuningan,” ucapnya saat diwawancarai wartawan.
Dampak pembangunan Waduk Kuningan, kata dia, ganti untung menyisakan sekitar 3 persen lagi.
“Ketiga persen itu dari bidang tanah milik warga yang belum dapat ganti untung dan alasan itu dari administrasi serta menunggu keuangannya dari pemerintah juga,” ujarnya.
Sejak mendapat keuntungan bak ketiban durian, kata Kusto, warga banyak menggunakan uang itu untuk hal-hal konsumtif.
Ini bisa dibuktikan dengan pembelian unit mobil dan motor.
“Dalam setiap hari, ada 30 unit motor dengan berbeda merek itu dibeli warga kami. Mayoritas motor gede matic seperti NMax atau PCX yang menjadi idola warga kami,” ujarnya.
Sebelumnya warga tuban ramai-ramai borong mobil, bos Pertamina Rosneft sedih, ketakutan akan hal ini terjadi.
Terkait fenomena warga Tuban memborong sejumlah mobil, bos Pertamina angkat bicara.
Melansir dari Kompas.com, Kadek Ambara selaku Presiden Direktur PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia Jaya angkat bicara terkait hal tersebut.
Fenomena warga Tuban yang memborong ratusan mobil tersebut, setelah memperoleh ganti untung pembebasan lahan proyek pembangunan kilang minyak.
Warga tersebut adalah berasal dari Desa Sumurgeneng, Desa Wadung, dan Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu, Tuban.
Setelah mendapat uang ganti untung, warga Desa Sumurgeneng terlihat beramai-ramai membeli mobil.
Bahkan, ada satu keluarga di desa itu yang membeli tiga hingga empat mobil sekaligus.
Kadek mengaku prihatin dan sedih dengan fenomena yang terjadi tersebut.
Kadek khawatir masyarakat yang mendadak jadi miliarder itu terancam miskin jika tak bisa mengelola uang dengan baik.
“Kalau ini (terancam miskin) terjadi, saya yang salah, karena tidak mengawal dan mendampingi mereka,” kata Kadek, saat dikonfirmasi Kompas.com, Rabu (17/2/2021).
Kadek menjelaskan, pihaknya akan melakukan riset sosial untuk memetakan kondisi warga di tiga desa tersebut. Riset sosial itu akan dilakukan dengan menggandeng pihak ketiga.
“Kita akan gandeng tim riset dari Lembaga Antropologi Untuk Riset dan Analisa dalam rangka membangun cetak biru CSR (corporate social responsibility) perusahaan berbasis kearifan lokal,” ungkapnya.
Pihaknya juga ingin melibatkan warga dalam berbagai program padat karya. Program itu merupakan salah satu upaya kehadiran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di tengah masyarakat.
Sebelum melibatkan warga, Pertamina Rosneft akan memberikan pembinaan dan pelatihan. Sehingga, masyarakat memiliki skil yang baik.
“Kita punya kewajiban untuk membantu warga dari ring satu, apalagi warga saat ini kan mulai susah karena Covid-19,” jelasnya.
Masyarakat, khususnya yang tak memiliki lahan, bisa bergabung dalam program padat karya tersebut.
Sebab, masyarakat yang sebelumnya menggantungkan hidup dengan menggarap lahan orang lain kehilangan salah satu pemasukan mereka.
“Kalau punya lahan kan punya duit banyak nih, namun penggarapnya kan kasihan,” jelasnya.
Sementara itu, proses pengerjaan proyek pembangunan kilang minyak masih dalam tahap pembersihan lahan.
Sebelumnya, Kepala Desa Sumurgeneng Gihanto mengatakan, dari 840 kepala keluarga (KK) di desanya, sebanyak 225 KK menjual tanah ke Pertamina.
Tanah itu dijual untuk pembangunan kilang minyak new grass root refinery (NGRR) yang merupakan kerja sama Pertamina dan perusahaan asal Rusia, Rosneft.
PT Pertamina juga menghargai tanah warga lebih tinggi dari biasanya, sekitar Rp 600.000 sampai Rp 800.000 per meter.
Rata-rata, warga mendapat uang sebanyak Rp 8 miliar dari penjualan tanah itu. Gihanto menjelaskan, warga yang memiliki empat hektare lahan mendapat uang sebesar Rp 26 miliar.
Sebagian besar warga yang mendapat uang ganti untung memborong mobil. Gihanto mencatat sudah ada 176 mobil yang dibeli warga desanya.
Aksi beli mobil itu terekam dalam sebuah video dan viral di media sosial. Dalam video itu terlihat belasan truk towing yang membawa mobil baru antre di Jalan Desa Sumurgeneng.
Adalah warga Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Wantono alias Nahol, 40 tahun, menunggu ganti untung sekitar Rp 25 miliar dari pembebasan lahan untuk proyek kilang minyak Pertamina-Rosneft, di Jenu, Tuban.
Ganti untung dari pemerintah di tanah warisan kakeknya seluas 4 hektare dari total 7 hektare, segera cair. “Kita tengah menunggu pencairan,” ujarnya pada wartawan, Rabu, 17 Februari 2021.
Ayah satu anak ini mengakui, setelah nanti dapat ganti pembebasan lahan, uang yang diterima akan digunakan sesuai kebutuhan. Seperti beli tanah, daftar haji, bikin usaha. Kalau pun terpaksa beli mobil, dipilih yang sederhana. Dia sekarang sudah membeli mobil Mitsubishi Xpander seharga Rp 301 juta. Tetapi oleh tetangga lainnya diejek karena dianggap mobil biasa.
“Tetangga lain, beli mobil Pajero, Honda HRV dan jenis mobil mewah lainnya. Saya diejek, tetapi tenang saja,” kata suami dari Nurlaili Yulianti.
Menurut Nahol, untuk sekarang dia lebih memilih melanjutkan usaha orang tuanya. Dia mengelola sisa tanah seluas 3 hektare untuk pertanian. Seperti tanaman jagung, padi dan kacang tanah. Tanah seluas itu, dikelola bersama satu adik perempuan. Dia terus berupaya agar pola hidup warga desa yang sederhana terus dipertahankan.
Nahol berharap ketika proyek kilang minyak Pertamina-Rosneft mulai beroperasi, warga di Desa Sumurgeneng dan sekitarnya diberdayakan. Proyek itu diharapkan tidak mengambil tenaga kerja dari luar desa di Kecamatan Jenu. Karena, kalau itu terjadi maka Pertamina mengingkari kesepakatan dengan warga. ”Memberdayakan warga disini penting. Apalagi warga disini sebagian besar petani,” katanya.
Ganti untung yang bakal diterima Nahol, bukan yang terbesar. Ada warga di Kecamatan Jenu yang bahkan akan menerima uang Rp 57 miliar yang memiliki beberapa bidang tanah. Tetapi karena uangnya belum cair sehingga namanya belum dimunculkan. ”Ada yang lebih besar terima pembebasan lahan Rp 57 miliar,” ujar Camat Jenu Maftuchin Reza pada Tempo, Rabu, 17 Februari 2021.
Data di Kantor Kecamatan Jenu terdapat 17 desa yang terdampak proyek. Sedangkan untuk lahan proyek kilang Pertamina-Rosneft luas sebanyak 841 hektare, yang dibagi sebanyak 1.136 bidang. Rincian lokasinya berada di Desa Kali Untuk sebanyak enam bidang, Desa Wadung sebanyak 562 bidang, dan Desa Sumurgeneng sebanyak 566 bidang. Juga dari Perhutanan sebanyak satu bidang dan KLHK sebanyak satu bidang. Sebagai catatan, satu orang bisa mempunyai lebih dari satu bidang.
Dari jumlah itu yang sudah dinilai sebanyak 474 bidang, sudah diukur sebanyak 229 bidang, dan belum diukur sebanyak 471 bidang.
Maftuchin Reza mengatakan, sebelum warga menerima ganti untung pembebasan lahan, pihaknya telah menggelar pelatihan yang difasilitasi Pertamina dan Lembaga Pengabdian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) Universitas Airlangga, Surabaya. Materi pelatihan, agar masyarakat bisa mengelola keuangan dengan benar, setelah terima ganti untung tanah. Tujuannya, agar warga tidak terpengaruh dengan gaya hidup mewah dan tetap dengan penghidupan sederhana masyarakat desa di Tuban.
Pelatihan untuk penguatan ekonomi dan pengelolaan uang agar tidak konsumtif ini, sudah dilakukan beberapa kali. Terutama di desa Wadung, Desa Sumurgunung dan Desa Kaliuntu, yang tanah warganya dibebaskan untuk proyek kilang. Misalnya, setelah terima uang miliaran, sebaiknya dibelikan tanah lagi, untuk usaha, tertanian. Intinya agar tidak cepat habis dan bisa ditinggalkan ke anak cucu di masa depan. “Sudah berkali-kali kita sosialisasi,” kata Camat Jenu ini.
Sebelumnya Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mengatakan, kilang minyak kerja sama Pertamina-Rosneft pada tahap pembangunan akan menggunakan 35 persen Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Kilang Pertamina ini juga menyerap tenaga kerja sebanyak 20 ribu saat konstruksi dan 2.500 saat operasi.
”Menyerap tenaga kerja banyak,” ujarnya saat mendampingi kunjungan kerja Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, di acara peninjauan proyek pembangunan pelabuhan di Desa Mentoso, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Sabtu 30 November 2019.
Menurut Nicke, proyek ini menciptakan multiplier effect lainnya. Terutama di sekitar lokasi di Kabupaten Tuban. Juga peningkatan pendapatan negara dan daerah baik dari pajak, menambah devisa negara dan mengurangi ketergantungan impor crude dan produknya.
Nicke mengatakan, kilang Tuban akan memberikan tambahan pasokan kebutuhan BBM, LPG dan Petrokimia berkualitas untuk kebutuhan dalam negeri. Adanya kilang Tuban, menekan impor karena kebutuhannya dipenuhi dari kilang yang tengah dibangun di Tuban ini.
Berkah atau Cobaan?
Ditilik dari penjelasan Al-Qur’an, disebutkan, jika suatu negeri beriman dan bertakwa, maka Allah akan menurunkan berkah dari langit dan bumi.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf: 96).
Imam Nawawi menyebut bahwa yang dimaksud dengan berkah adalah tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan kebaikan yang berkesinambungan.
Kemudian Allah SWT berfirman, “Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia, kecintaan terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (QS Ali Imran: 14).
Kita juga bisa memperhatikan firman Allah dalam surah al- Fajr ayat 20, Watuhibbunal maalaa hubban jamma dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan. Sehingga, Allah SWT menjadikan hartamu dan anak-anakmu hanyalah fitnah (ujian) bagimu (QS. at-Taghabun: 14-15).
Terkait Hadits tentang ujian dan cobaan ini didasarkan pada hadits dari Ali bin Abi Thalib RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
“Sabar itu ada tiga macam: sabar dalam menghadapi musibah, sabar dalam menjalankan ketaatan dan sabar dalam menghindari kemaksiatan. Siapa yang sabar dalam menghadapi musibah sehingga mampu menjalaninya dengan baik, dengan segala kekuatan hatinya, maka Allah akan mencatat untuknya sebanyak 300 derajat yang antara satu derajat dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dengan bumi. Siapa yang sabar dalam menjalankan ketaatan, maka Allah akan mencatat untuknya 600 yang antara satu derajat dengan derajat yang lain seperti jarak antara batas dasar bumi hingga puncak ‘Arasy. Siapa yang sabar dalam menghindari kemaksiatan, maka Allah akan mencatat untuknya 900 derajat yang antara satu derajat dengan derajat yang lain seperti jarak dua kali antara batas dasar bumi hingga puncak ‘Arasy.” (HR. Ibnu Hibban, Ibnu Abid Dun-ya dan Dailami).
Cobaan yang menimpa kita tentu sudah diatur oleh Allah SWT. Jika kita bersabar, Allah SWT akan melipatkan pahala dan membantu menyelesaikan semua cobaan dan ujian yang dihadapi oleh umatnya dengan cara berdoa.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada seorang Muslim pun yang ditusuk oleh duri atau lebih dari itu, kecuali Allah pasti akan menghilangkan kesalahan-kesalahannya. Sebagaimana pohon yang menggugurkan daunnya.” (HR. Bukhari).
Sehingga Islam mengajarkan kepada manusia agar sabar seperti lima nabi yang memiliki keteguhan yang kuat. Kelima nabi yang sabar itu adalah Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad.
Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ahqaf ayat 35:
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan azab bagi mereka.” (QS Al-Ahqaf: 35).
Kesimpulan
Fenomena ketiban rezeki besar seperti yang dialami warga Tuban Jawa Timur dan Kuningan Jawa Barat adalah berkah dan rahmat dari Allah, namun bisa juga sebagai ujian atau cobaan bagi mereka yang tidak pandai bersyukur.
Penjelasan para ulama menyebutkan, bersyukur adalah dengan terus melakukan ketaatan beribadah kepada Allah dan membelanjakan harta/rezeki yang diperoleh di jalan kebaikan yang diridhoi oleh Allah SWT, seperti membantu anak yatim, fakir miskin, membuka usaha produktif yang bermanfaat bagi orang lain dan lain sebagainya.
Semoga bermanfaat. Nun walqalami wama yasturuun. Wassalamu ‘alaikum warhmatullahi wabarakatuh.***
