
Dampak gempa bumi. Ilustrasi. dok
Catatan Zul Marbun, Wartawan Koranmedan.Online
Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami , maka kami siksa mereka sebab perbuatan mereka sendiri. (Qur’an Surat Al-A’raf ayat 97)
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan mengingatkan potensi bahaya megathrust atau jalur subduksi lempeng bumi yang sangat panjang, tapi relatif dangkal yang berpotensi tsunami di pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa.
“Kita nih takut megathrust ini, megathrust yang bisa saja terjadi masih di pantai barat dari Sumatera, Pantai Selatan Jawa, yang ini memang kita harus duga bahwa itu akan terjadi. Dimana, kapan dan bagaimana, itu yang kita tidak tahu. Itulah alam itu. Jadi kita semua harus siap menghadapi itu,” ungkap Luhut dalam Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 secara virtual, Kamis (4/3/2021).
Selain itu, Luhut meminta kepala Daerah juga melihat potensi adanya zona aktif gempa di wilayah masing-masing. “Jadi kalau dilihat sekarang ini, apa namanya zona aktif gempa, zona seismic gap, dan lainnya, ini menjadi penting untuk diperhatikan. Kemudian zona aktif gempa Januari 2021 ini seperti ini tolong kita simak baik-baik. Dan aktif gempa Januari 2001 itu ada dimana Aceh, Nias. Aceh mungkin tidak berulang tsunami mungkin, saya nggak tahu karena saya bukan orang ahli ya, tapi karena baru 15 tahun yang lalu,” kata Luhut.
Luhut juga mengingatkan adanya potensi gempa merusak bahkan memicu tsunami di beberapa wilayah ini untuk waspada. “Di Nias bisa saja terjadi atau di Padang karena pada daerah itu, patahannya. Dan atau juga di Bengkulu. Atau juga bisa daerah-daerah yang berbahaya di Lombok, Sumbawa, Sumba, Sulbar, Sulteng, Gorontalo, Laut Maluku, Seram. Ini semua area-area yang perlu kita perhatikan. Waktu itu sudah ada rapat kabinet terbatas untuk menyiapkan ini semua. Jadi sehingga sekarang posisi BNPB ini menjadi sangat sangat strategis, karena supaya bisa mengkoordinasikan seluruh kekuatan kita manakala terjadi gempa,” ungkap Luhut.
Oleh karena itu, Luhut meminta semua Kepala Daerah bersama dengan pemerintah pusat untuk menyiapkan mitigasi. Pasalnya, kata Luhut, pemerintah bertanggung jawab atas keselamatan warganya. “Jadi ini saya minta para Kepala Daerah, teman-teman semua, ayo kita saling rakyat kita dan pemerintah daerah kita sendiri. Kalau, Anda bertanggung jawab terhadap keselamatan rakyat tempat anda bekerja, tolong ini pembelajaran ini dilakukan,” tegas Luhut.
Sebagai langkah ikhtiar, saran Menko Marves Luhut Binsar Panjaitan agar semua pihak siaga bencana terkait gempa megathrust di Pantai Barat Sumatera dan Selatan Jawa patut diapresiasi dan diikuti.
Pendekatan Spritual
Namun ada pendekatan spritual (keyakinan) yang perlu juga dilakukan semua pihak agar bencana gempa megathrust tidak terjadi.
Merujuk informasi Al-Qur’an, ada empat ayat Al-Qur’an yang mengungkapkan dua kali kasus gempa bumi dalam kurun waktu berbeda di masa lampau, yang meluluhlantakkan negeri dan umat yang ditimpanya. Tidak kurang dari kedahsyatan kasus gempa bumi yang terjadi saat ini.
Dua dari empat ayat yang mengungkapkan kasus gempa itu terdapat dalam surat Al-A’raf dengan lafaz yang sama, masing-masingnya ayat 78 tentang kasus gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh:
“Karena itu mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.”
Dan ayat 91 Surat Al-A’raf yang menunjuk kasus gempa yang dialami umat Nabi Syu’aib. Firman Allah SWT:
”Lalu, mereka dibinasakan oleh gempa bumi sehingga pagi harinya mereka bergelimpangan dalam rumahnya.”
Tidak jauh beda dari kedua ayat di atas, surat Hud ayat 67 kembali menunjuk kasus gempa yang menimpa umat Nabi Shaleh. Firman-Nya:
”Dan, orang-orang yang aniaya itu ditimpa suara gemuruh, lalu mereka bergelimpangan dalam rumahnya.”
Kemudian Surat Al-‘Ankabut ayat 37 mengungkapkan kasus gempa yang dialami umat Nabi Syu’aib. Firman-Nya:
”Lalu mereka mendustakannya (Syu’aib), kemudian mereka disiksa dengan gempa raya, lalu di pagi hari mereka bergelimpangan dalam rumahnya.”
Empat ayat Alquran di atas selayaknyalah mengundang manusia agar melirik kasus gempa sebagai sebuah ‘ibrah (pelajaran). Paling tidak, ada tiga ‘ibrah yang dapat dilihat.
‘Ibrah pertama, kasus gempa bumi bukan hanya terjadi sekarang, melainkan telah terjadi di masa lampau dan mungkin akan terjadi lagi di masa datang.
Pengetahuan seperti itu membuka peluang kepada manusia untuk meningkatkan kehati-hatian (mitigasi) dan bahkan mendeteksi saat-saat akan terjadinya gempa sebagai upaya menghindari bahaya yang lebih fatal.
‘Ibrah kedua, gempa bumi mutlak terjadi atas kehendak Yang Maha Kuasa (Allah SWT). Kendati menurut teori para ahli dan ilmuwan disebabkan gunung meletus atau pergeseran lempeng bumi dan sebagainya, semua itu tidak lain dari kehendak-Nya. Gempa bumi terjadi di luar kemampuan manusia atau makhluk lainnya.
‘Ibrah ketiga, kasus gempa bumi di zaman Nabi Shaleh dan Nabi Syuaib ternyata berhubungan dengan sikap umat yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Hal ini bukan hanya membuat kita terpukul oleh musibah gempa, melainkan juga mengharuskan kita melakukan koreksi diri.
Pertanyaannya, dosa apa yang telah kita lakukan sehingga Allah SWT Yang Maha Kuasa menakdirkan terjadinya gempa yang menghancurkan kota dan desa serta menewaskan manusia yang banyak?
Sebagai manusia lemah kita semua mutlak berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Harapan kita, gempa bumi yang telah terjadi dapat dilalui dengan penuh kesabaran dan menjadi sebuah bahan koreksi diri. Berlindung kita kepada-Nya dari sifat berputus asa dari rahmat-Nya.
Rasulullah SAW bersabda, ”Umatku ini dirahmati Allah, akan tetapi ada siksaan mereka di dunia berupa fitnah-fitnah, gempa bumi, peperangan, dan musibah-musibah lainnya.” (HR Abu Daud).
Kesimpulan
1. Gempa bumi dan bencana tidak akan diturunkan Allah selagi manusia tidak berbuat dosa (maksiat).
2. Allah SWT justru akan menurunkan rahmat ke bumi selagi manusia mau beriman dan bertakwa.
3. Jika penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami , maka kami siksa mereka sebab perbuatan mereka sendiri. (QS. Al-A’raf 97).
4. Barangsiapa bertakwa kepada Allah dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, niscaya Allah memberikan baginya jalan keluar dari segala kesempitan dan kesusahan yang terjadi padanya. (Qur’an Surat At-Thalaq ayat 2-3 / Tafsir al-Mukhtashar).
Semoga bermanfaat. Nun walqalami wama yasthuruun. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ***
