Peringatan Hardiknas Dairi Dipusatkan di SMPN 1 Pegagan Hilir

PEGAGAN HILIR: koranmedan.com
Peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang seyogianya di peringati pada hari Senin 2 Mei 2022 yang lalu, namun karena pada hari tersebut tepat pada Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijriah dan merupakan cuti bersama.
Terkait itu, peringatan Hardiknas digelar
Selasa (17/5/2022) dipusatkan di SMPN 1 Pegagan Hilir Kecamatan Pegagan Hilir Kabupaten Dairi. Seluruh peserta upacara tampak mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.
Acara diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya, upacara bendera dipimpin langsung Bupati Dairi, Dr Eddy Keleng Ate Berutu, pemberian bantuan perlengkapan sekolah bagi peserta didik berprestasi, penampilan tari dari peserta didik.
Kegiatan juga dihadiri Ketua TP PKK Kabupaten Dairi Ny. Romy Mariani Simarmata, Kepala Dinas Pendidikan, Fatimah Boang Manalu, Kepala Dinas P3AP2KB, dr Nitawaty Sitohang, Camat Pegagan Hilir Abdimar Tamba, Kepala Sekolah SMPN 1 Pegagan Hilir, Jansen Nadeak, mewakiki tokoh masyarakat Anggota DPRD Dairi, Jones Gurning, Forkopimca Pegagan Hilir, para guru dan pengajar serta para peserta didik.
Pidato Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Anwar Makarim yang dibacakan Bupati Dairi antara lain menyebutkan sejumlah perkembangan Merdeka Belajar yang kini tengah menginjak tahun ketiga. Diantaranya adalah Kurikulum Merdeka yang kini sudah dijalankan ratusan ribu sekolah di seluruh Indonesia, penggantian ujian nasional menjadi asesmen nasional, serta terciptanya dana abadi kebudayaan untuk para pelaku budaya dan seniman.
Kurikulum Merdeka, yang berawal dari upaya untuk membantu para guru dan murid di masa pandemi, terbukti mampu mengurangi dampak hilangnya pembelajaran. Kini Kurikulum Merdeka sudah diterapkan di lebih dari 140.000 satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Itu berarti ratusan ribu anak Indonesia sudah belajar dengan cara yang jauh lebih menyenangkan dan memerdekakan,” sebut Bupati Eddy.
Dijelaskan, anak-anak Indonesia juga tidak perlu lagi khawatir dengan tes kelulusan karena asesmen nasional yang sekarang digunakan tidak bertujuan untuk menghukum guru atau murid, tetapi sebagai bahan refleksi agar guru terus terdorong untuk belajar; supaya Kepala Sekolah termotivasi untuk meningkatkan kualitas sekolahnya menjadi lebih inklusif dan bebas dari ancaman tiga dosa besar pendidikan.
“Semua perubahan positif yang kita usung bersama ini tidak hanya dirasakan oleh para orang tua, guru dan murid di Indonesia, tetapi sudah digaungkan sampai ke negara-negara lain melalui presidensi Indonesia di konferensi tingkat tinggi G20,” sebut Bupati yang membacakan Pidato Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. *** (mata)
