Pentingnya Menanam Tanaman Sehingga Menjadi Bagian dari Sedekah Jariyah
Catatan: Zul Anwar Ali Marbun, Wartawan Koranmedan.com
Ilustrasi menanam tanaman. (foto dokumentasi penulis)
Ketika anak Adam (manusia) wafat, maka putuslah segala amal ibadahnya kecuali tiga, yaitu Sedekah Jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang shaleh.
Demikian bunyi hadis Nabi Muhammad Shallallahi ‘Alaihi Wassallam (SAW) diriwayatkan Imam Muslim yang disampaikan Al-Ustadz Drs. Asfaruddin dalam Khatib Shalat Jumat di Masjid Darul Iman Jalan Bajak 2-H Kelurahan Harjosari 2 Kecamatan Medan Amplas, Medan, Jumat (3/6/2022).
Dijelaskan Ustadz Asfaruddin, ragam Sedekah Jariyah bermacam-macam bentuknya mulai dari berinfak di jalan Allah seperti ikut membangun masjid, madrasah/sekolah/panti asuhan dan fasilitas kegiatan sosial lainnya seperti tanah wakaf, kemudian berbagi kebutuhan pangan, sandang dan papan serta menanam tanaman termasuk bagian dari bentuk Sedekah Jariyah.
Nabi Muhammad SAW kembali bersabda, kata Ustadz Asfaruddin, “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman lalu tanaman itu dimakan manusia, binatang ataupun burung melainkan tanaman itu menjadi sedekah baginya sampai hari kiamat,” sebutnya mengutip hadis riwayat Imam Muslim.
Sedekah yang nilainya mengalir sampai pada hari kiamat, lanjut Ustadz Asfaruddin, hal itu tergolong Sedekah Jariyah, “Pahalanya tidak terputus sekalipun seseorang itu telah meninggal dunia,” sebut Asfaruddin.
Lebih jauh dijelaskan Ustadz Asfaruddin, manusia tidak bisa terlepas dari tanaman dan pepohonan. Apalagi pohon juga menghasilkan oksigen.
Berdasar riset, kutip Asfaruddin, seorang manusia menghirup 740 kilogram oksigen sepanjang tahun. Kalau peduduk bumi saat ini berjumlah sekitar 7,7 miliar lebih, berapa miliar ton oksigen yang harus dipasok agar semua penduduk bumi bisa terus bernafas? Selain itu, berapa pohon yang harus ditanam untuk dikonsumi dari jenis biji-bijian, buah, dan sayuran?
Biji-bijian seperti padi, palawija, dan gandum berasal dari pohon yang ditanam dengan cara intensifikasi maupun ekstensifikasi pertanian. Beragam macam buah, seperti anggur, kurma, apel, jeruk adalah hasil budi daya manusia yang masih terus ditanam, bahkan dengan cara rekayasa genetika. Termasuk sayuran hijau tak henti-hentinya ditanam dan dikembangkan.
Karena itu, imbuh Asfaruddin, Nabi SAW mewanti-wanti melalui hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Ahmad, “Jika terjadi hari kiamat sementara di tangan salah seorang dari kalian ada sebuah tunas, maka jika ia mampu sebelum terjadi hari kiamat untuk menanamnya, maka tanamlah.
Pahala Besar
Terpisah, Ketua Yayasan Sekolah Islam Terpadu As-Syiriyah Perumnas Mandala Deliserdang Al-Ustadz Drs. H. Muslim Lubis, MA kepada penulis mengatakan, melihat besarnya pahala menanam pohon dari beragam jenis, sudah sepantasnya setiap orang secara pribadi maupun berkelompok memelakukan reboisasi dengan menanam pohon pelindung dan konsumsi. Sebagaimana banyak dilakukan perusahaan- perusahaan yang peduli terhadap lingkungan seperti Danone-AQUA, produsen air minum dalam kemasan.
Pohon pelindung selain menghasilkan oksigen juga mampu menahan erosi di saat musim penghujan. Bahkan pohon pelindunglah yang menahan longsor dan banjir bandang.
“Inilah pahala ekologi menanam pohon yang membuat langit cerah, polusi merendah, dan lapisan ozon tidak terus bolong. Selain itu, pada pohon pula burung-burung berkicau, bahkan tak jarang pipit mencuri padi milik petani di sawah yang menghampar. Tentu ini menjadi pahala tersendiri bagi petani. Termasuk ketika tanaman itu dimakan hama atau makhluk lainnya,” ujar Ustadz Muslim Lubis yang juga mantan Kepala SMP Negeri 2 dan 4 Kota Medan.
Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Apa yang dicuri dari tanaman tersebut merupakan sedekahnya. Apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanaman itu merupakan sedekahnya. Apa yang dimakan oleh seekor burung dari tanaman itu merupakan sedekahnya. Tidaklah dikurangi atau diambil oleh seseorang dari tanaman itu kecuali merupakan sedekahnya,” kutip Lubis dari hadis yang diriwayatkan Imam Muslim.
Secara psikologis, lanjut Ustadz Muslim Lubis, manusia menyukai keindahan alam yang menghijau, taman, air yang mengalir. Maka surga yang dijanjikan juga digambarkan seperti itu. Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT) menjelaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 25, “Bagi mereka disediakan surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya,” kutip Muslim Lubis seraya menambahkan, untuk menikmati surga di dunia bisa dengan cara melestarikan lingkungan.
Di sisi lain, Muslim Lubis mengamati, membangun gerakan menjaga dan merawat pepohonan ternyata juga tidak mudah. Hal ini tergambar dari firman Allah SWT, “Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya,” kata Muslim Lubis mengutip terjemahan Al-Qur’an Surat Al-A’raf ayat 56. Karena faktanya, imbuh Muslim Lubis melihat catatannya, hutan dunia menghilang 684.000 hektar sepanjang tahun atau rata-rata 1.800 hektar setiap hari.
“Kondisi ini tentu menuntut semua orang untuk peduli pada pepohonan, jika tidak, bencana demi bencana akan susul menyusul datang menerjang. Untuk itu mari kita rajin menanam dan merawat pepohonan. Selain untuk kebaikan bersama juga menjadi bernilai Sedekah Jariyah di mata Allah SWT,” pungkas Ustadz Muslim Lubis mengakhiri keterangannya.*** (Tulisan ini diikutsertakan untuk Kompetisi Jurnalistik Danone-AQUA 2022)
