Untuk Stabilisasi Stok dan Pasokan,
Pemprov Sumut Minta Produsen Bahan Pangan Utamakan Distribusi Lokal

Kabid Pengelolaan Informasi Publik Iwan Sutani Siregar (kanan) mewakili Plt Kepala Dinas Kominfo Sumut llyas Sitorus bersama Kepala Biro Perekonomian Naslindo Sirait dan Plt Kepala Dinas Ketapang dan Holtikultura Sumut Ir. Lusyantini, MM saat konferensi pers terkait Kesiapan Stok Pangan Sumatera Utara menghadapi Natal dan Tahun Baru 2023, di Ruang Rapat Asisten/Staf Ahli Lantai VIII Kantor Gubernur Sumut Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan, Kamis (22/12/2022).
MEDAN: koranmedan com
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) mengimbau produsen bahan pangan di Sumut agar memprioritas ketersediaan stok dan pasokan untuk kebutuhan lokal Sumut.
Hal itu disampaikan Kepala Biro Perekonomian Pemprov Sumut Naslindo Sirait sekaligus mewakili Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut bersama Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Sumut Ir. Lusyantini, MM dalam keterangan pers terkait perkembangan harga komoditi pangan yang mempengruhi angka inflasi daerah, Kamis (22/12/2022) sore di Ruang Rapat Lantai VIII Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30 Medan.
Perlunya stabilisasi stok dan pasokan tersebut, kata Naslindo sangat dibutuhkan menyusul terjadinya kenaikan harga sejumlah komoditi bahan pangan antara 0 hingga 20% sejak dua pekan terakhir Desember 2022. “Kenaikan harga ini juga menjadi salah satu pemicu kenaikan inflasi di Sumut,” kata Naslindo.
Turut hadir Plt Kepala Dinas Kominfo Sumut diwakili Kepala Bidang Pengelolaan Informasi Publik Iwan Sutani Siregar serta puluhan wartawan unit Pemprov Sumut.
Disampaikan Naslindo, tingkat inflasi di Sumut hingga November 2022 sudah mencapai 5%. Sementara targetnya hingga akhir tahun dapat bertahan di bawah itu, dan hingga pekan kedua Desember kenaikan sudah berada pada kisaran 0,5%. Sehingga perlu upaya untuk menahan laju inflasi tersebut di kisaran 0,3-0,4%.
“Ke depan kita harus dapat menahan laju inflasi ke kisaran 0,4% agar target inflasi di bawah 5% dapat dicapai di akhir tahun 2022,” katanya.
Adapun penyebab terjadinya kenaikan harga yang memicu tingginya kenaikan inflasi di Sumut, berdasarkan temuan di lapangan, kata Naslindo ternyata dipicu oleh beberapa komoditas yang didistribusikan ke luar Sumut. Sementara kebutuhan lokal dalam provinsi tidak kalah besarnya.
“Contoh temuan di lapangan pada produsen telur ayam, yang mendistribusikan produksinya keluar Sumut. Misalnya dikirim ke Jakarta mencapai 9.616 ikat, Aceh 943 ikat dan Batam 3.710 ikat (15 kg per ikat),” katanya.
Sedangkan untuk distribusi di Sumut, khususnya ke Medan, sebanyak 5.555 ikat. Artinya ada 71% yang keluar dan hanya 29% yang didistribusikan di dalam provinsi. Hal serupa juga terjadi pada kenaikan harga komoditi cabai merah.
Berdasarkan data perkembangan harga komoditas pangan selama dua pekan di Desember 2022 (1-16/12/2022), kata Naslindo, cabai merah mengalamai kenaikan signifikan sebesar 20%. Dari Rp28.868/kg di awal Desember, menjadi Rp34.930/kg pada 16 Desember 2022.
Begitu juga cabai rawit naik 16% selama dua pekan, telur ayam ras naik 3,4%, daging ayam 2,9% dan ikan gembung 1,2%. Kenaikan ini masih memungkinkan untuk bergerak, mengingat semakin dekatnya momentum perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2022-2023.
Rancang Lima Strategi
Antisipasi untuk permasalahan itu, kata Naslindo, Pemprov Sumut merancang lima strategi pengendalian inflasi di sisa waktu sepekan terakhir Desember 2022. Yakni meminta seluruh kabupaten/kota menggelar pasar murah secara masif, terutama di 5 kota IHK (Indeks Harga Konsumen) seperti Medan, Pematangsiantar, Padangsidimpuan, Gunungsitoli dan Sibolga.
Kemudian mengaktifkan Satgas Pangan melakukan inspeksi mendadak (Sidak) ke produsen atau gudang penyimpanan, agar tidak ada spekulan yang menahan dan menimbun bahan pokok menjelang Nataru. Juga meminta PD Pasar untuk menjadi distributor kebutuhan pokok seperti telur, gula, minyak goreng dan tepung sehingga saluran distribusi lebih pendek dan tidak dimonopoli pengusaha tertentu. “Karena semakin panjang mata rantai distribusi, membuat harga semakin mahal,” ucapnya.
Selanjutnya kata Naslindo, Pemprov Sumut meminta para produsen agar mengutamakan pemenuhan kebutuhan pasar lokal di Sumut. Serta terakhir, Pemprov Sumut menugaskan badan usaha milik daerah (BUMD) untuk melakukan perdagangan guna memenuhi beberapa komoditas yang masih defisit seperti bawang putih dan bawang merah dari luar Sumut, bekerjasama dengan petani di Brebes Jawa Barat.
Sementara Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Holtikultura Sumut Lusyantini mengingatkan masyarakat agar berbelanja di pasar-pasar sesuai kebutuhan dan tidak memborong secara berlebihan. “Masyarakat tidak perlu kuatir karena stok ketersediaan bahan pangan di Sumut mencukupi hingga 3 bulan ke depan,” kata Lusyantini.*** (Zul Marbun)
