
Pernah Studi Banding ke Jogja, Rubah Mindset Sugiono
Penulis: Aldi Aulia
DELISERDANG: koranmedan.com
Setelah tujuh tahun merintis sebagai pengrajin keramik, akhirnya di tahun 2017 Sugiono berkesempatan studi banding ke Yogyakarta. Tak sendiri, ia pergi ke Jogja bersama pengrajin keramik lainnya.
Usai perjalanan tersebut, pengrajin keramik dari Desa Bangun Sari, Tanjung Morawa, Deli Serdang ini membuat cara berpikir atau mindset-nya berubah 180 derajat.
“Tahun 2017 saya dapat bantuan dari pemerintah untuk studi banding ke Jogja. Sama pengrajin keramik lainnya, ada dari Medan, Langkat dan Sergai (Serdang Bedagai) juga ada,” tuturnya kepada awak media ini, Kamis (25/5/2023).
“Saya pribadi banyak belajar dari studi banding itu. Bahkan cara berpikir saya terbuka untuk mengembangkan usaha kerajinan saya ini. Gak lama setelah itu, saya inisiatif dan berani mengajukan pinjaman melalui KUR BRI sebagai modal,” sambungnya.
Setelah mendapat modal tambahan, lanjut Sugiono, ia memberanikan diri memasarkan sendiri hasil karya kerajinannya. Sebab sebelumnya hasil produksi bengkelnya dioper ke pengepul.
Walaupun tak langsung berjalan mulus, ayah lima anak ini mengakui memasarkan hasil produksi sendiri lebih menguntungkan dibandingkan dioper ke pengepul.
“Ya kalau dioper tentu mereka (pengepul) yang menetapkan harga. Tapi setelah saya beranikan memasarkan sendiri dengan harga saya, ya Alhamdulillah ada perubahannya,” ucap Sugiono.
“Awal-awal peralihan itu pastilah gak berjalan mulus, tapi saya tetap sabar dan ikhtiar. Alhamdulliah bisa jalan sampai sekarang ini. Bahkan usaha saya ini dibantu dengan tiga pengrajin lainnya,” tambahnya.
Sejak dari studi banding tersebut, Sugiono mengakui banyak perubahan lainnya. Selain kualitas dan produksi, studi banding itu juga meningkatkan kreativitasnya sebagai pengrajin keramik.
Lebih lanjut, saat usahanya mulai menanjak, ‘badai’ pandemi Covid-19 di tahun 2020 juga dirasakannya. Sebab daya beli masyarakat yang rendah mempengaruhi usahanya.
“Saat covid-covid itu sangat berdampak, sepi pesanan. Ya mungkin karena daya beli masyarakat yang kecil. Kira-kira setahunan saya alami. Tapi setelah itu di 2021 mulai bangkit lagi,” sebutnya.
Awal-awal merintis, Sugiono lebih banyak fokus produksi keramik jenis guci, hiasan dan lainnya. Namun beberapa tahun terakhir saat booming-booming-nya dengan bunga omsetnya pun meningkat.
“Apalagi kami inikan tinggal di daerah wisata bunga, jadi beberapa tahun belakangan banyak pesanan keramik untuk pot bunga juga. Alhamdullilah jalan terus untuk pot bunga ini,” tutupnya.***
