Bersedekah Cerdas dengan Air yang Terbaik
Catatan: Zul Anwar Ali Marbun, Wartawan Koranmedan.com
Ilustrasi bersedekah air dan (kanan) Ustadz Drs. H. Muslim Lubis.
Bersedekah ternyata harus cerdas juga. Hal itu diutarakan Ustadz Drs. H. Muslim Lubis kepada penulis saat ditemui di kediamannya beberapa waktu lalu di kawasan Perumnas Mandala Deliserdang, Sumatera Utara.
Menurutnya, bersedekah yang terbaik itu adalah dengan air minum. Dalilnya Hadis Shahih Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibu saya telah meninggal. Bolehkah saya bersedekah atas nama beliau?”. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Boleh”. Sa’ad bertanya lagi: “Sedekah apa yang paling utama, wahai Rasulullah?”. Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam menjawab: “Sedekah berupa air minum” (HR. An Nasa’i no.3666, dihasankan Al Albani dalam Shahih An Nasa’i).
“Air merupakan unsur pokok dalam kehidupan manusia sehingga sedekah air memberikan manfaat yang besar bagi manusia,” sebut Ustadz Muslim Lubis seraya menjelaskan, di antara sedekah jariyah yang paling utama adalah memberi sedekah air minum.
Tidakkah diketahui bahwa penghuni neraka meminta minuman kepada penghuni surga. Mereka (penghuni neraka) mengatakan: ‘Berikanlah kami curahan air kepada kami, atau apa saja yang Allah berikan kepada kalian’ (Qur’an Surat Al A’raf ayat 50), urai Ustadz Muslim Lubis.
Lebih jauh dipaparkan Al-Ustadz mantan Kepala SMP Negeri 4 Medan itu, setiap hamba punya masa lalu masing-masing, setiap hamba juga tidak luput dari dosa, baik besar maupun kecil atas perbuatan masing-masing. Pelacur, penzina, pembunuh, dan perbuatan dosa besar lainnya masih punya kesempatan untuk mendapatkan rahmat dan ampunan Allah SWT. Seperti kisah pelacur yang masuk surga atas keikhlasannya dalam menolong seekor Anjing yang kehausan.
Dikisahkan dari hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, tutur Ustdaz Muslim Lubis, “Seorang wanita pezina dari Bani Israil diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah.” (HR. Al Bukhari no.3321 dan Muslim no.2245).
Hikmah dari kisah tersebut, kata Ustadz Muslim Lubis, seburuk apapun masa lalumu, sebesar apapun dosa yang telah diberbuat olehmu, janganlah putus asa dan merasa sangat hina, percayalah ampunan Allah itu nyata terbuka, asalkan mau bertaubat dan tutupi perbuatannya dengan perbuatan yang baik serta ikhlas dalam menjalankannya.
Di dalam memperlakukan hamba-Nya, lanjut Ustadz Muslim Lubis, seburuk apapun dia, Allah mendahulukan sifat rahmatnya daripada murkanya. Oleh sebab itu, Allah tidak pernah bosan memberi ampunan kepada hambaNya sekalipun telah berbuat maksiat (dosa).
“Bahkan ketika seorang hamba itu berulang kali bersalah dan berulang kali pula bertaubat. Allah menyatakan Dia tidak akan pernah bosan menerima taubat hambaNya, sampai hamba tersebut yang bosan bertaubat,” tegas Ustadz Muslim.
Karena sifat kasih sayang ini adalah sifat Allah yang paling banyak diperintahkan untuk disebut dan diingat, kata Ustadz Muslim Lubis, maka manusia pun diperintahkan untuk berkasih sayang terhadap semua makhluk Allah. “Banyak hadis yang mengingatkan kita tentang pentingnya memiliki sifat rahmat ini. Di antaranya sabda Rasulullah SAW:
من لا يرحم الناسَ لا يرحمهُ الله
“Siapa yang tidak menyayangi manusia, tidak akan disayang Allah.” (HR. At-Thabarani),” ungkap Muslim Lubis.
Hadis ini, lanjut Ustadz, bahkan tidak menyebut manusia yang beriman saja, tetapi manusia secara keseluruhan. Ada redaksi hadis lain yang tidak menyebutkan maf’ul atau obyek kasih sayang sehingga Rasulullah saw hanya mengatakan bahwa siapa yang tidak berkasih sayang, maka dia juga tidak akan dirahmati. Ada pula hadis lain yang menyatakan bahwa barang siapa tidak menyayangi penduduk bumi, maka ia tidak akan disayangi oleh yang di langit, urai Ustadz Muslim Lubis.
Harus yang Terbaik
Selain itu, imbuh Ustadz Muslim Lubis, saat bersedekah itu haruslah pula yang terbaik.
Diriwayatkan, lanjut Ustadz, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata, “Abu Thalhah radhiyallahu ‘anhu adalah orang Anshar yang memiliki banyak harta di kota Madinah berupa kebun kurma. Ada kebun kurma yang paling ia cintai yang bernama Bairaha. Kebun tersebut berada di depan masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memasukinya dan minum dari air yang begitu enak di dalamnya.”
Anas berkata, kutip Ustadz Muslim Lubis, “Ketika turun ayat,
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّى تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai.” (Qur’an Surat Ali Imran ayat 92).
Kesimpulannya, kata Ustadz Muslim Lubis, bila bersedekah cerdas dengan air, maka airnya pun haruslah yang berkualitas. “Semoga bermanfaat,” pungkas Ustadz Muslim Lubis.***
(Tulisan ini diikutsertakan untuk Lomba Karya Tulis Pabrik AQUA Langkat 2023)
