
Simulasi pencegahan karhutla dilakukan peserta, Jumat (13/10/23) berlangsung di Halaman Kantor Camat Sei Lepan, Langkat. (Istimewa)
LANGKAT – koranmedan.com
Langkat merupakan kabupaten terluas di Sumatera Utara. Memiliki 240 desa dan 37 kelurahan dari 23 kecamatan dengan luas wilayah keseluruhan 6.273,29 km².
Ribuan hektare lahan perkebunan milik masyarakat dan perusahaan, lahan TNGL dan juga hutan mangrove ada di wilayah Langkat yang kesemua itu rentan terjadi kebakaran.
Berdasarkan itu, Pemkab Langkat melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus menggelar sosialisasi dan simulasi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kali ini sosialisasi dilaksanakan di wilayah Kecamatan Sei Lepan bagian Langkat Hulu diikuti 150 orang.
Peserta terdiri dari unsur masyarakat, PKK, aparatur desa, pemerintah kecamatan, TNI, Polri, unit pemadam kebakaran (Damkar) Langkat, Pinjam Pakai Kawasan Hutan (PPKH) Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Provinsi Sumut.
Sosialisasi dan simulasi berlangsung selama empat hari mulai 10 sampai 13 Oktober 2023, berlokasi di Aula dan Halaman Kantor Camat Sei Lepan, Langkat.
Materi sosialisasi meliputi sistem peringatan dan deteksi dini karhutla, peranan TNI, Polri, petugas Damkar, PPKH Dinas LHK Sumut, serta pihak kecamatan dan jajaran dalam upaya pengendalian karhutla.
Plt Kalakhar BPBD Langkat, M Ansari MKes MM melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik, Iriadi SKm MKes berharap giat ini mampu menumbuhkan sikap kemandirian dan kesiapan masyarakat.
Ke depannya para peserta akan terus dibina menjadi relawan penanggulangan bencana karhutla untuk menghadapi dan melakukan penanggulangan kebakaran hutan di wilayah masing-masing.
“Pelatihan ini selain memberikan materi yang berisikan teori juga peserta diajak langsung mempraktekkan teknis memadamkan kobaran api. Baik teknis secara manual menggunakan alat seadanya, maupun menggunakan mobil Damkar,” ungkap Iriadi dilokasi, Jumat (13/10/2023).
Ia menjelaskan sosialisasi dan simulasi ini juga sebagai langkah peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat dalam melakukan pencegahan serta penanganan dini kebakaran, membiasakan koordinasi terarah, untuk terlaksananya respon dan gerak cepat penanggulangan karhutla.
Iriadi pun ingin sinergitas penanganan dan pencegahan karhutla menjadi bagian penting yang dipahami masyarakat serta perusahaan perkebunan dalam upaya menjaga kelestarian dan kesehatan lingkungan.
“Saat terjadi kebakaran hutan dan lahan, sinergitas seluruh pihak terkait sangat dibutuhkan, sebagai hal utama untuk membangun kesiapan dan kesigapan dalam penanganan pertama yang dilakukan sejak titik api muncul agar tidak membesar dan menyebar,” ujarnya.
Iriadi menegaskan karhutla harus dicegah. Masyarakat pun harus selalu waspada, terlebih dimusim kemarau. Sebab pada umumnya karhutla terjadi saat tanaman menjadi sangat kering dan mudah terbakar.
Terkahir dijelaskan Iriadi, dampak karhutla selain merusak alam juga mengakibatkan pencemaran udara oleh asap dan debu, gas SOx, NOx, COx, dan lain-lain. Hingga berdampak negatif bagi kesehatan manusia, antara lain infeksi saluran pernafasan, sesak nafas, iritasi kulit, iritasi mata, juga berdamapak pada perekonomian, utamanya perekonomian rumah tangga.
“Karhutla membuat terganggunya lingkungan, hilangnya habitat makhluk hidup, korban jiwa, polusi udara, polusi air, pemanasan global, berkurangnya bahan pangan, terganggunya fasilitas setempat dan ekonomi,” tandasnya.(*)
Editor: Zul Anwar
