Memilah Sampah Solusi Selamatkan Bumi

Catatan: Zul Marbun, Wartawan Koranmedan.com
Jangan kira memilah sampah itu tidak bernilai. Justru kebiasaan memilah sampah dari yang basah (organik) dengan sampah kering (non organik) sangat bermanfaat untuk menyelamatkan bumi. Terlebih jika sampah organik terutama bisa diolah menjadi cuan (uang) seperti halnya sampah non organik. Bagaimana caranya? Sebelum ke sana kita simak dulu penjelasan berikut.
Urusan sampah memang masih menjadi masalah pelik di Indonesia. Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup (KLHK) Novrizal Tahar mengakui hal itu menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung usai.
Data KLHK menyebutkan volume sisa makanan atau food waste mencapai 28,5 juta ton atau 40,6 persen dari seluruh total timbunan sampah di Tanah Air pada 2022. Sektor terbanyak yang menyumbangkan sampah makanan tersebut adalah rumah tangga, sebesar 38,3 persen.
“Perilaku masyarakat pada 2018 yang disurvei oleh BPS (Badan Pusat Statistik -red) itu, 72 persen orang Indonesia nggak peduli terhadap persoalan sampah. Ini juga satu tantangan,” ungkap Novrizal.
Hampir sama, Bappenas menyebutkan Indonesia membuang 23-48 juta ton sampah makanan per tahun pada periode 2000-2019. Food waste tersebut, menurut Bappenas, menimbulkan kerugian ekonomi sebesar Rp213-551 triliun per tahun dan secara sosial sebetulnya dapat memberi makan kepada 61-125 juta orang per tahun.
Menurut Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) (United Nations Environment Program/UNEP), Indonesia adalah penghasil limbah makanan terbesar di Asia Tenggara.
Yang menjadi masalah, bukan hanya food waste menjadi pemborosan semata. Namun juga memberi dampak terhadap lingkungan yang banyak tidak orang sadari.
“Kalau food waste itu dibawa ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir -red) kemudian terdekomposisi, dia akan mengeluarkan, merilis gas metan. Jadi food waste ini kalau tidak dikelola dengan baik, akan menyebabkan emisi gas rumah kaca dalam bentuk gas metan,” ujar Novrizal.
Padahal, sambungnya, gas metana memiliki potensi pemanasan global yang efeknya sangat dahsyat, yaitu mencapai 28 kali lipat lebih besar dari karbondioksida (CO2). Artinya, meskipun metana dilepaskan dalam jumlah yang jauh lebih kecil daripada CO2, dampaknya dalam jangka pendek akan sangat signifikan terhadap temperatur Bumi.
Data Climate Watch menunjukkan, sampah menyumbang hampir 10 persen dari total emisi karbon Indonesia pada 2020 yang mencapai 1.48 gigaton (Gt).
Dorong Pengomposan Rumah Tangga
Novrizal menekankan pemerintah tak jemu-jemu dalam menggodok skenario untuk memangkas volume sampah organik, terutama sampah sisa makanan. Pararel dengan program pembangunan industri pengelolaan sampah, imbuhnya, pemerintah juga terus mengampanyekan gerakan hidup minim sampah “zero waste, zero emission.”
Tujuannya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa urusan sampah sesungguhnya urusan bersama dan dapat diselesaikan pada level rumah tangga.
Caranya cukup mudah, kata Novrizal, yaitu dengan menyortir sampah organik dan non-organik di rumah, dan kemudian membuat pupuk kompos dari sisa-sisa sampah organik tersebut.
“Jadi kita melihat kalau semua orang Indonesia ngompos di rumah, sisa-sisa makanan di rumah itu, sisa-sisa dapur, itu bisa menurunkan emisi gas rumah kacanya kurang lebih 7 juta ton setahun, itu di Indonesia saja. Dan bisa mengolah sampah makanan (dari seluruh sektor) kurang lebih 11 juta ton sampai 12 juta ton setahun,” papar Novrizal.
Novrizal menambahkan membangun industrialisasi pengolahan sampah organik, baik secara komersial dengan teknologi BSF (Black Soldier Fly/Larva Tentara Lalat) dan teknik pengomposan rumah tangga menjadi bagian upaya pemerintah untuk mencapai target pengurangan karbon.
Pemerintah menargetkan pengurangan Gas Emisi Rumah Kaca (GRK) sebesar 31,89 persen pada 2030 dengan usaha sendiri, atau 43,2 persen jika dibantu oleh dunia internasional. Dalam Konferensi Iklim PBB COP-26 di Glasgow, Skotlandia, Pemerintah Indonesia menargetkan bisa mencapai emisi nol karbon atau net zero emission pada 2060.
Pengembangan Larva Tentara Lalat
Upaya penggiat lingkungan untuk mengolah limbah makanan dengan teknologi Larva Tentara Lalat (BSF) sangat sejalan dengan komitmen pengurangan emisi karbon pemerintah.
Herman seorang penggiat dari FoodCycle mengatakan, pihaknya sedang mengembangkan teknologi BSF menjadi bagian dari program integrated urban farming atau konsep pertanian perkotaan terintegrasi bersama salah satu mitranya yang mengelola panti asuhan di Jati Asih, Bekasi. Idenya, teknologi BSF digunakan untuk mengolah limbah organik di panti asuhan itu.
“Kita belajar bareng sih sebenarnya ya. Selama ini dari awal tahun untuk mengolah limbah organik di lokasi yang hasilnya nanti langsung diberikan ke lele dan pupuknya langsung ke tanaman ubi. Itu integrated urban farm,” papar Herman, jebolan teknik komputer di RMIT University di Australia.
Dia menambahkan FoodCycle berencana menduplikasi konsep pertanian perkotaan dengan teknologi BSF ini ke beberapa lokasi. Harapannya, kata Herman, konsep itu akan menghasilkan gaya hidup nir-sampah, sebagaimana slogan FoodCycle: Zero Hunger & Zero Waste for A Better Indonesia.
Sementara itu, Sari Larva di Desa Kuala Tanjung Kecamatan SeI Suka Kabupaten Batubara Sumatera Utara memiliki obsesi untuk meningkatkan kapasitas pengolahannya yang artinya akan lebih banyak lagi volume sisa makanan yang diharapkan dapat diolah. Namun, Dedi Syahputera selaku penggiat menekankan perlunya kesadaran masyarakat untuk memilah sampah organik dan non-organik.
“Karena buat saya juga, sebenarnya kalau memang kita melihat suatu solusi yang masif untuk kita berangkat dari kesadaran individu, secara realistis itu rada-rada sulit memang sebenarnya, tapi kalau sudah dimulai akan terasa ringan,” ungkap Dedi Syahputera yang akrab disapa Pak Untung.***
