Kerajinan Alat Tangkap Gurita Berbahan Limbah Antarkan Juliana Lie Mendulang Untung
Juliana Lie (kiri) foto bersama dengan Tim Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si memperlihatkan produk inovasi alat tangkap Gurita.
BATUBARA: koranmedan.com
Terungkap di sela kunjungan Koranmedan.com ke Dusun Pematang Eru Desa Medang Kecamatan Medang Deras Kabupaten Batubara bersama Peneliti Pusat Unggulan Inovasi (PUI) Karbon dan Kemenyan Universitas Sumatera Utara (USU) Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, Sabtu (25/5/2024) ternyata ada alat tangkap Gurita diproduksi di Dusun tersebut dengan campuran limbah BFD dari debu sisa pembakaran pabrik peleburan aluminium Kuala Tanjung.
Pengerajin wanita bernama Juliana Lie, berhasil meningkatkan kualitas alat tangkap Gurita yang biasa diproduksinya menjadi lebih baik. Biasanya produksi alat tangkap Gurita yang dibuatnya hanya terdiri dari campuran air, pasir dan semen dengan harga jual Rp 1.000 (seribu rupiah) per keping. Tapi ketika ditambahkan dengan BFD dan tepung kalsium dari kulit kerang dengan campuran 1 banding 1, kualitas alat tangkap Gurita yang diproduksi bertambah bagus dengan harga Rp 3.000 (tiga ribu rupiah) per keping.
“Alhamdulillah penghasilan saya dari memproduksi alat tangkap Gurita bertambah lumayan. Pembelinya pun sudah ada yang datang dari Provinsi Aceh,” ujar Juliana Lie saat ditemui Koranmedan.com.
Buah kebaikan yang dilakoni Juliana Lie ternyata juga membawa efek positif bagi nelayan penangkap gurita. Hasil tangkapan para nelayan di sekitar Desa Medang ikut meningkat sehingga sudah bisa menembus pasar ekspor ke luar negeri dengan harga tolak Gurita ke pengepul Rp 60.000 per Kg.
“Ini menjadi produk inovasi yang positif untuk kesejahteraan masyarakat,” ungkap Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si di sela kegiatan berbagi berkah di Rumah Kalsium Dusun Pematang Eru Desa Medang dan di Dusun Benteng Desa Pakam Kecamatan Medang Deras, Ahad (27/5/2024).
Menurut Dr. Sontang yang juga ahli di bidang Social Engineering atau Ilmu Rekayasa Sosial, pemanfaatan limbah menjadi barang berharga sudah menjadi trend baru di tengah issu perubahan iklim atau pemanasan global akhir-akhir ini.
Karena itu dia mengajak warga komunitas pesisir di Kabupaten Batubara untuk ikut mengolah limbah kulit/cangkang kerang-kerangan seperti kulit kepah, mentarang, tamin dan lain-lain untuk diolah menjadi tepung kalsium yang bermanfaat untuk kesehatan manusia dan lingkungan.
Cara Membuat Tepung Kalsium
Cara membuat tepung kalsium sangat mudah, kata Sontang. Cukup kulit kerang dicuci hingga bersih lalu direbus dan dijemur hingga kering. Setelah itu digongseng beberapa saat lalu ditumbuk dengan alu lesung dan diayak untuk mendapatkan tepung kalsium.
Untuk aplikasi ke makanan, kata Sontang, tepung kalsium terlebih dahulu direbus lalu diendapkan selama 1 malam untuk mengambil air pati kalsium. “Nah air pati kalsium inilah yang dicampur ke bahan makanan atau minuman sebelum diolah menjadi produk yang diinginkan. Kita bisa buat nasi udhuk berkalsium, lontong berkalsium, kue berkalsium, bandrek berkalsium, kebab berkalsium dan sebagainya,” terang Dr. Sontang yang juga Anggota Tim Cluster Tata Kelola Limbah Universitas Sumatera Utara.*** (War)
