Menurut Dr. Sontang: Begini Perbedaan Zikir Syariat dan Zikir Makrifat
Kh. Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.
MEDAN: koranmedan com
Zikir syariat dan zikir makrifat adalah dua konsep dalam tasawuf yang merujuk pada cara dan tujuan berzikir yang berbeda.
Berikut penjelasan Ketua Harian Jama’iyah Ahlith Thariqoh Almuktabarah An-Nadliyah Sumatera Utara (Jatman Sumut) Kh. Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si kepada Koranmedan.com, Rabu (24/7/2024) mengenai perbedaan keduanya.
Menurut Dr. Sontang yang juga Dosen Fisika pada Universitas Sumatera Utara (USU) itu, Zikir syariat adalah zikir yang dilakukan sesuai dengan aturan dan tata cara yang telah ditetapkan oleh syariat Islam. Ini mencakup bacaan-bacaan tertentu, waktu-waktu yang dianjurkan, dan jumlah pengulangan yang disarankan.
Tujuannya menurut Dr. Sontang adalah untuk menjalankan perintah Allah dan mendapatkan pahala. Ini adalah bentuk ibadah yang nyata dan terukur.
“Contoh membaca tasbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), dan tahlil (La ilaha illallah) setelah shalat, atau membaca doa-doa tertentu dalam kehidupan sehari-hari,” sebut Dr. Sontang.
Zikir Makrifat
Sementara Zikir makrifat menurut Dr. Sontang adalah zikir yang lebih mendalam dan bersifat batiniah, yang bertujuan mencapai pengetahuan (makrifat) dan kedekatan yang lebih tinggi dengan Alloooh. Ini sering melibatkan meditasi dan kontemplasi yang mendalam.
“Tujuan zikir makrifat ini adalah untuk mencapai kesadaran akan kehadiran Alloooh dalam setiap aspek kehidupan dan mencapai tingkat spiritual yang lebih tinggi,” sebutnya.
Contoh zikir makrifat, kata Dr. Sontang, bisa berupa pengulangan nama-nama Alloooh dengan penuh penghayatan, meditasi mendalam tentang sifat-sifat Alloooh, atau bahkan kontemplasi diam dalam kehadiran-Nya.
Secara sederhana dapat dipahami, kata Dr. Sontang, zikir syariat lebih menekankan pada pelaksanaan ritual yang sesuai dengan aturan agama.
“Sedangkan zikir makrifat lebih fokus pada pengalaman batin dan pencapaian spiritual yang lebih mendalam seperti melafazkan kalimat ‘La ilaha illalloooh’ berulang-ulang sembari menempelkan lidah ke langit-langit mulut,” jelas Kh. Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.*** (War)
