ASDEKI dan Dubes Uzbekistan Jalin Kemitraan Tingkatkan Perdagangan
Ketua Umum ASDEKI Khairul Mahalli (kiri) saat diterima Duta Besar Uzbekistan Oybek Eshonov di Jakarta, Rabu (11/9/2024). ist
JAKARTA: koranmedan.com
Ketua Umum (Ketum) Asosiasi Depo Kontainer Indonesia (ASDEKI) yang juga Ketum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) menyambut gembira kerjasama bilateral Indonesia dengan Kedutaan Besar Uzbekistan dalam meningkatkan dan menyeimbangkan perdagangan kedua negara.
“Kita bersyukur Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) dan Asosiasi Depo Kontainer (ASDEKI) bisa menjalin kemitraan dengan kedutaan besar Uzbekistan guna meningkatkan neraca perdagangan,” kata Ketum ASDEKI Khairul Mahalli kepada wartawan di Jakarta, Rabu (11/9/2024).
Disebutkan Mahalli, neraca perdagangan Indonesia dengan Uzbekistan masih mengalami devisit dengan angka yang cukup jauh. “Untuk itu dibutuhkan perimbangan perdagangan dengan meningkatkan ekspor Indonesia ke Uzbekistan,” kata Mahalli.
Pada 2023, sebut Mahalli yang juga Ketum Kadin Sumut itu, total perdagangan kedua negara tercatat sebesar USD 141,1 juta dengan nilai ekspor Indonesia ke Uzbekistan sebesar USD 16,3 juta dan impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar USD 124,7 juta.
Diharapkan melalui kerjasama ini, sebut Mahalli, bisa meningkatkan perdagangan antara kedua negara melalui kemudahan regulasi yang diterapkan untuk mempermudah para pelaku usaha dalam melakukan aktivitas ekspor maupun impor.
“Menyangkut perimbangan ekspor dan impor, kita harus tahu di mana untuk peningkatan kerjasama perdagangan kedua negara dapat diberikan kemudahan dan harmonisasi regulasi,” sebut Mahalli.
Dewan Pakar Arenas Prabowo 08 itu juga mengatakan, perdagangan kedua negara melalui produk unggulan berupa produk halal untuk pasar Uzbekistan masih didominasi produk makanan dan minuman, kosmetik, perawatan tubuh, dan fesyen; produk kopi dan teh; tekstil dan produk tekstil, produk olahan kelapa; serta produk turunan kelapa sawit.
Sementara produk unggulan Uzbekistan yang diimpor ke Indonesia masih didominasi produk pupuk dan bubur serat. Sedangkan produk yang bisa jadi peluang baru untuk pasar Indonesia melalui produk buah-buahan seperti Cherry dan anggur, produk agrikultur seperti bawang merah dan bawang putih hingga makanan kering.
“Tentu produk yang bisa kita ekspor yang dibutuhkan untuk pasar Uzbekistan. Kemudian produk pertanian yang selama ini hanya bergantung dari beberapa negara, kini kita bisa mendapatkan alternatif dari Uzbekistan,” kata Mahalli.
Di samping peningkatan perdagangan, imbuh Mahalli, kedua negara juga bisa mencari peluang baru dalam meningkatkan bekerjasama dalam bidang perindustrian, periwisata dan investasi. Tidak hanya dengan Uzbekistan, namun juga negara di Asia Tengah.
“Kita bisa bermitra secara sinergis. Yang jelas dalam sekali pertemuan, kita bisa 10 kali eksekusi kerjasama yang bisa dilakukan dalam misi dagang. Tentunya nanti para pengusaha dari Uzbekistan bisa kita undang menyangkut perdagangan, industri dan investasi,” kata Mahalli.
Berdasarkan data Kementrian Perdagangan pada Januari—Maret 2024, total perdagangan Indonesia dan Uzbekistan mencapai USD 35,3 juta, naik 63,9 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pada periode ini, ekspor Indonesia ke Uzbekistan tercatat sebesar USD 3,3 juta, sedangkan impor Indonesia dari Uzbekistan sebesar USD 32 juta.
Pada 2023, ekspor utama Indonesia ke Uzbekistan meliputi margarin/lemak atau minyak nabati dan fraksinya dengan pangsa 59,84 persen dari total ekspor Indonesia, mesin listrik (11,07 persen); ekstrak, esens, dan konsentrat kopi dan teh (7,07 persen), serta minyak kelapa, minyak inti sawit, atau minyak babassu (4,79 persen).
Sementara produk ekspor potensial Indonesia ke Uzbekistan antara lain minyak sawit, minyak sayur, kendaraan bermotor untuk transportasi, serta minyak kelapa. Sedangkan impor utama Indonesia dari Uzbekistan meliputi pupuk mineral atau kimia, kalium (dengan pangsa 94,44 persen dari total impor Indonesia), serta bubur serat (5,39) persen.*** (Ril/War)
