Kekurangan Gizi Kronis Penyebab Anak Alami Stunting

SIDIKALANG: koranmedan.com
Diseminasi Audit Kasus Stunting II Kabupaten Dairi berlangsung di Aula PLUT KUMKM Dairi digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3A2KB) Kabupaten Dairi, Kamis (5/12/2024).
Kegiatan diseminasi menghadirkan 4 narasumber pakar yaitu dr. Elisabeth Tarigan, Sp. A, (Spesialis anak), dr. Haripin Togap Sinaga, MCN (Ahli Gizi), dr. Bonar Sinaga, SpOG (Spesialis Obstetri dan Ginekologi) serta Evi Berlian M. Psi Psikolog (Ahli Psikologi).
Ketua Tim Penanganan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Dairi Pj Sekda Jonny Hutasoit mengajak seluruh pihak yang terkait untuk tetap mengajak masyarakat ikut berperan dalam penurunan angka stunting.
“Mari kita mengajak masyarakat agar lebih peduli kesehatan anak sejak dalam kandungan, sehingga pencegahan permasalahan stunting dapat diselesaikan,” jelasnya.
Jonny Hutasoit memaparkan, Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Ada 5 strategi nasional dalam percepatan penurunan stunting yaitu, Peningkatan komitmen dan visi kepemimpinan di Kementerian/Lembaga, Pemerintah Provinsi, Pemerintah kabupaten/kota dan pemerintahan desa, Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat,
Peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif di kementerian/lembaga pemerintah.
Demikian pula Peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga dan masyarakat provinsi pemerintah daerah kabupaten/kota dan pemerintahan desa. Penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset dan inovasi untuk menindaklanjuti isu strategis tersebut, disusun rencana aksi nasional melalui pendekatan beresiko,” kata Jonny Hutasoit.
Sementara Evi Berlian M. Psi mengatakan, menurut WHO (2015) stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar.
Dampak stunting dalam jangka pendek, kata Evi, yaitu daya tahan tubuh berkurang dan rentan terkena infeksi. “Risiko kematian anak stunting lebih tinggi karena massa otot dan massa lemak anak stunting lebih sedikit. Anak stunting, pada masa remaja dan dewasanya lebih banyak mengalami masalah psikologis dan IQ yang lebih rendah, sehingga menyebabkan tingkat pendidikannya rendah,” terang Evi Berlian M. Psi .*** (mata)
