
Oleh: Zul Marbun, WKU
(Koranmedan.Online)
“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syura: 30).
Musibah atau bencana yang terjadi di bumi baik yang sekarang maupun yang terdahulu merupakan ulah dari perbuatan manusia itu sendiri sebagaiman bunyi firman Allah SWT yang termaktub di Al-Qur’an Surat Asyura ayat 30 yang penulis kutip di atas.
Pengertian lain dari musibah atau bencana itu bisa pula berupa azab dari Allah. Ayat-ayat Al-Qur’an sangat banyak bercerita tentang azab ini. Antara lain kisah kaum Adh, kaum Samuth, kaum Luth, dan kaum Nuh. Allah menghancurkan kaum itu karena perbuatan dosa atau maksiat yang mereka lakukan.
Karena itu mari kita jadikan suatu musibah atau bencana sebagai iktibar untuk berubah dan meminta ampun kepada Allah dengan menjauhi segala perbuatan dosa terutama dosa syirik (mempercayai adanya kekuatan dari selain Allah) serta perbuatan dosa lainnya yang dilarang Allah SWT.
Musibah atau bencana harus kita jadikan pula sebagai hikmah untuk senantiasa taat (bertakwa) kepada Allah dengan melaksanakan segala perintah Allah dalam Al-Qur’an maupun yang dicontohkan Rasulullah Muhammad SAW. Karena dengan ketaatan akan mendatangkan kebaikan berupa rahmat dari Allah kepada manusia dan alam semesta.
“Sekiranya mereka tetap berjalan lurus di jalan Allah, niscaya Kami akan mencurahkan kepada mereka rahmat yang cukup. Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. (QS Al-Jin: 16-17).
Begitu juga di dalam Hadis, Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa yang memperbanyak istighfar (meminta ampun), Allah jadikan baginya kemudahan dari setiap kesulitan dan menjadikan jalan keluar dari setiap kesempitan. Dan, Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.” (Hadis Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah).
Semoga bermanfaat. Nun wal qalami wama yasturuun. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin. ***