
Menteri Desa PDTT, Abdul Halim Iskandar
Jakarta (Koranmedan.Online) – Kali ini bukan kampus masuk desa, sebaliknya desa masuk kampus. Bahkan, akhirnya perguruan tinggi mengafirmasi pengalaman dan prestasi kepala desa, perangkat desa, pengurus Bumdes, serta pendamping desa, sebagai pengganti mata kuliah yang relevan. Sehingga, tinggal mengambil sedikit kuliah, menyusutkan waktu di kampus, untuk meraih gelar sarjana. Apalagi, sebagian perkuliahan dimungkinkan dijalankan secara daring/online.
Model rekognisi pembelajaran lampau (RPL) ini menunjukkan kampus menghargai kerja-kerja praktis di desa bernilai akademis. Pada saat bersamaan, tokoh-tokoh berprestasi dan berpengalaman dari desa itu mendalami dasar pemikiran pembangunan yang selama ini dijalankan, menerapkan metode ilmiah dan berpikir logis, sehingga trampil mengimplementasikan kebijakan berbasis data, angka, peta spasial, maupun narasi budaya.
“Ini membuka harapan baru, mencipta energi baru, dan menjadi mesin anyar untuk menggerakkan kemajuan desa lebih cepat, sekaligus mengadaptasi pembangunan sesuai budaya desa setempat,” kata Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) Dr. H. Abdul Halim Iskandar dalam Zoom Meeting bersama Menteri Dalam Negeri, Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud dan Rektor Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta sebagai Ketua Forum Pertides, Rabu (10/2/2021).
Sekaligus ini menjadi kebaruan model peningkatan kapasitas para pemimpin desa menuju kemandirian Desa membangun bangsa, kata Abdul Halim yang akrab disapa Gus Menteri. *** (Zul Marbun)
