MEDAN: (koranmedan.com) Dr Andi Khairul, SpJp, dokter spesialis jantung Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara menyebutkan, 14,4 persen kematian akibat jantung koroner.
Hal itu disampaikannya di sela kegiatan hari jantung sedunia di Poli Jantung RS USU, Rabu (29/09/2021).
Dr Andi kemudian menunjukkan data penyakit jantung diindonesia PJK 14,4 %, Stroke 19,4%, Hipertensi 3%, Kardiomiopati 0,44%, Aorta 2,7%, Atrial Fibrilasi 0,29%, Congenital 1,9%.
Di Indonesia, kata dr Andi, data Riskedas tahun 2018 menunjukkan, prevalensi penyakit jantung di Indonesia 15 dari 1000 orang penduduk ,atau saat ini terdapat 4,2 juta orang yang menderita penyakit jantung.
Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) melaporkan 14,4% sebab kematian di Indonesia adalah penyakit jantung koroner. Gaya hidup, merokok dan pola makan merupakan contributor utama terjadinya penyakit jantung coroner, dilaporkan 50% penderita penyakit jantung koroner berpotensi mengalami henti jantung mendadak.
Makin tingginya penyakit jantung dan pembuluh darah dan meningkatkan resiko kematian akibat serangan jantung. Sudah banyak masyarakat terlatih Bantuan Hidup Dasar oleh pelbagai organisasi / institusi tetapi belum ada wadah organisasi pembinanya dan belum ada aplikasi yang dapat menghubungkan antara relawan dan korban. Kecepatan dan ketetapan pemberian pertolongan gawat darurat kepada korban oleh masyarakat sangat diperlukan. Diperlukan sistem dan pengorganisasian yang mengintegrasikan antara keberadaan masyarakat yang membutuhkan pertolongan/korban dengan relawan yag minimal sudah tesertifikasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk memberikan pertolonga gawat darurat dengan cepat dan tepat.
Pandemi covid 19 yang berlangsung sejak tahun 2019 menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang dengan penyakit jantung mengingat paparan infeksi apapun temasuk infeksi covid – 19 dapat mencetuskan perburukan dari penyakit jantung seperti terjadinya kekambuhan PJK atau gagal jantung menahun. Laporan RS dimasa pandemi menunjukkan bahwa 16,3% pasien yang dirawat dari ruang isolasi covid ternyta mempunyai komorbid atau koinsiden penyakit jantung.
Dimasa sebelum pandemi dilaporan bahwa angka kematian di RS akibat serangan jantung adalah 8%, namun laju angka kematian serangan jantung ini dilaporkan meningkat di masa pandemi hingga 22-23%.
Penanggulangan penyakit jantung Indonesia yaitu komitmen, Kerjasama antar organisasi dan Lembaga, pemeriksaan kesehatan, data data pasien , mapping, program pencegahan di masyarakat ( stop rokok, ruang publik untuk aktifitas fisik, akses makanan sehat, polusi udara, pencegahan infeksi dan vaksinasi), skrining, hindari hoax, dan memperkuat rujukan, demikian dr Andi Khairul, SpJP. (zeinizein)
