Pemerintah Karo Diminta Awasi Kawasan Wisata Pemandian Air Panas Lau Debuk-Debuk
Kawasan pemandian air panas Lau Debuk-Debuk Karo. (Dok)
BERASTAGI: koranmedan.com
Penggiat Hypermetafisika Filsafat yang juga Dosen Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si meminta Pemerintah Kabupaten Karo bersama aparat berwenang seperti Kemenag dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) setempat untuk melakukan pengawasan ketat terhadap lokasi atau kawasan wisata pemandian air panas Lau Debuk-Debuk agar kalangan pengunjung pria dan wanita yang bukan pasangan diawasi dan dicegah dari perbuatan mesum atau zina di lokasi wisata tersebut.
Hal itu diutarakan Muhammad Sontang Sihotang beserta istri Dra. Dara Aisyah, M.Si, Ph.D kepada koranmedan.com usai menyinggahi kawasan wisata pemandian air panas Lau Debuk-Debuk tersebut, Jumat (18/3/2022).
Menurut Sontang Sihotang, jika kawasan pemandian air panas Lau Debuk-Debuk tidak diawasi dengan ketat, dikhawatirkan mengundang murka Alloh SWT menyusul makin banyaknya penginapan-penginapan yang membebaskan pasangan pria wanita tidur bersama tanpa ikatan pernikahan.
“Kawah aktif Gunung Sibayak yang persis berada di sisi kawasan pemandian air panas Lau Debuk-Debuk dikuatirkan marah melihat perbuatan dosa yang terjadi di kawasan itu lalu memuntahkan bencana lahar panas yang dapat membuat banyak jatuh korban,” kata Muhammad Sontang seraya memberi solusi pencegahan agar pemerintah bersama aparat berwenang menyeleksi pengunjung dari pasangan pria dan wanita remaja/dewasa yang memasuki kawasan bagi mereka yang sudah memiliki surat nikah yang boleh masuk ke kamar penginapan.
Langkah pencegahan ini, lanjut Muhammad Sontang Sihotang jauh lebih baik daripada kawah Gunung Sibayak memuntahkan lahar panas ketika melihat kemaksiatan yang terjadi di kawasan pemandian air panas Lau Debuk-Debuk tersebut.
Hal ini, sambung Sontang Sihotang, berbanding lurus dengan ikhtiar (usaha) mitigasi (kesiapsiagaan) terhadap masalah bencana dimana faktor keimanan dan ketakwaan menjadi sisi spiritual bersama pula dalam upaya mencegah terjadinya bencana di suatu tempat.
Firman Alloh dalam Al-Qur’an Surat Al-A’Raaf ayat 97, kata Sontang menyebutkan, “Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami , maka kami siksa mereka sebab perbuatan mereka sendiri”.
Saat mengalami ujian (bencana) dari Alloh, kata Sontang, orang selamat atau tidak, tergantung rahmat Alloh, bukan karena keturunan siapa. Kuncinya adalah iman dan takwa. Kalau tidak bertakwa, nasibnya akan seperti anak Nabi Nuh, ditenggelamkan Alloh karena kemaksiatannnya yang tidak mau menuruti ajakan Nabi Nuh,” sebut Khalifah Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si mengakhiri keterangannya dan semoga menjadi iktibar, tutupnya.*** (War)
