Penting Kompetensi Dalam Perspektif Digitalisasi
Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sumut, Drs. M. Syahrir,M.I.Kom, (kiri), didampingi Ketua SPS Sekaligus Ketua PWI Sumut, H. Farianda Putra Sinik (dua kiri), bersama Ketua JMSI Sumut Rianto Aghly,SH, (dua kanan), serta moderator Diskusi Drs. Agus Salim Ujung (kanan).
MEDAN: koranmedan.com
Kompetensi di era digitalisasi sangat penting sebagai penunjang profesionalitas, kredebilitas, serta integritas dalam melakukan tugas dan fungsi wartawan dalam upaya mewujudkan suatu karya jurnalistik atau berita yang berkualitas.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Serikat Perusahaan Pers (SPS) Sumatera Utara, Rianto Aghly, SH saat kegiatan Panel Diskusi jelang pelaksanaan seleksi ujian calon anggota muda dan anggota biasa PWI Sumut di Ballroom Kartini Hotel Le Polonia, Jalan Sudirman, Medan, Kamis (28/07/2022).
“Pemahaman 5W+1H merupakan kunci bagi wartawan dalam menyajikan berita, ini merupakan salah satu wujud kompetensi yang menunjang integritas, kredebilitas, serta profesionalnya seorang wartawan,” ujar Anto Genk, sapaan akrab Rianto.
Sebagai salah satu narasumber dalam panel diskusi tersebut, Ketua Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Sumut itu berharap para wartawan mengikuti Uji Kompensi Wartawan (UKW) agar dapat memahami Kode Etik sehingga lebih mengutamakan ketepatan atau keakuratan daripada kecepatan.
Sementara, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Sumut, Drs. Muhammad Syahrir,M.I.Kom, dalam paparannya menegaskan kompetensi menjadi syarat serta ruh bagi wartawan untuk dapat tumbuh dan berkembang.
“Kopetensi adalah ruh. Jika ruh sudah ada maka profesionalitas, soliditas, etika serta kecintaan terhadap profesi akan terbangun dengan sendirinya,” tegas Drs. Muhammad Syahrir,M.I.Kom.
Senada dengan narasumber sebelumnya, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumatera Utara, H. Farianda Putra Sinik, memaparkan tantangan perusahaan pers dalam mengahdapi persaingan global di era digitalisasi.
“Era digitalisasi dewasa ini memiliki pengaruh besar terhadap perusahaan pers (cetak), ini dibuktikan dengan 77 persen iklan di seluruh Indonesia dikuasi oleh media siber, sehingga kesiapan kita dibutuhkan untuk menghadapi tantangan ini,” kata Farianda.
Dengan kondisi saat ini, Farianda menambahkan, pihak perusahaan pers harus melakukan antisipasi agar tidak tergilas yakni senantiasa berinovasi atas perubahan serta perkembangan sehingga dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat.
“Jika sampai tergilas, maka sudah pasti kepercayaan masyarakat akan menurun dan mengakibatkan kebangkrutan terhadap perusahaan pers (cetak) tersebut,” tutup H. Farianda Putra Sinik.*** (Nazmi Hidayat S)
