Mahasiswi D-3 Fisika FMIPA USU Rancang Alat Penetas Telur Otomat
Mahasiswi D-3 Fisika FMIPA USU Perancang Alat Penetas Telur Otomat Sarah Situmeang foto bersama Dosen Penguji Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si (kanan) dan Dosen Pembimbing Awan Maghfirah, S.Si., M.Si.
MEDAN: koranmedan.com
Berjudul “Rancangan Alat Inkubator Otomatis Memanfaatkan DHT11 dan Motor Synchronous sebagai Pengubah Posisi Telur Ayam Berbasis Atmega328” mahasiswi D-3 Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) bernama Sarah Situmeang menemukan rancangan alat penetas telur otomat yang dinilai efektif untuk dimanfaatkan oleh komunitas peternak ayam (unggas).
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari ketekunan Sarang Situmeang atas bimbingan Dosen Pembimbing Awan Maghfirah, S.Si., M.Si dan Dosen
Penguji Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si.,M.Si dari Program studi D-3 Fisika FMIPA USU.
Menurut Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si kepada Koranmedan.com, Selasa (2/8/2022), inkubator rancangan Sarah Situmeang tersebut merupakan perangkat penting yang digunakan untuk menghangatkan bayi prematur unggas dan dapat menetaskan telur pada suhu tertentu dengan menggunakan listrik dalam jumlah yang terukur.
Kelebihannya, kata Muhammad Sontang, lampu dalam inkubator yang digunakan untuk menghangatkan telur agar bisa menetas di bawah cahaya pijar secara alami. “Perancangan Inkubator ini memanfaatkan aplikasi IDE, yaitu alat yang membutuhkan untuk membuat program arduino di komputer yang dirancang secara konprehensif. Artinya, dalam perancangan Inkubator telur ayam ini, suhu ditentukan oleh daya tahan ruangan sampai telur menetas,” sebut Sontang.
Mikrokontroler Atmega328, bersama arduino Uno, sensor suhu dan kelembaban, lanjut Muhammad Sontang, adalah software yang digunakan untuk memprogram. “Telur penetasan disimpan pada suhu atau dibawah suhu 36,5 dan 38 derajat Celcius untuk pertumbuhan embrio yang optimal. Dengan sensor DHT11 yang membaca suhu lalu inkubator mengirim ke arduino kemudian ditampilkan ke LCD untuk menentukan relay high atau low untuk lampu. Lampu akan mati jika suhu tertinggi yaitu 37,5 derajat Celcius dan sebaliknya akan hidup kembali jika dibawah atau kurang dari 36 derajat Celcius begitu juga dengan motor synchronous akan bergerak memutar pergeseran papan telur jika berada pada waktu yang ditentukan yaitu menunjukkan detik ke 30, yang pergeserannya terjadi selama 1 menit. Jika perputaran telur terlalu sering maka embrio pada telur akan rusak atau busuk,” papar Sontang menjelaskan sistem kinerja temuan Sarah Situmeang.
Sebagai Dosen Penguji, Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si merekomendasikan, penggunaan inkubator otomat karya Sarah Situmeang sebagai penetas telur ayam bagi peternak dapat membantu dan mempercepat pembibitan unggas dengan persentase tetas yang tinggi dan berkualitas.*** (War)
