KBA Cengkeh Turi Perlu Berdayakan Energi Sampah Dedaunan
Catatan: Zul Anwar Ali Marbun, Wartawan Koranmedan Online
Diakui di Kampung Berseri Astra (KBA) tidak hanya kesehatan warganya yang berseri, tetapi juga anak-anaknya, lingkungannya, dan ekonomi masyarakatnya. Seluruh warga kampung Cengkeh Turi terpacu hidup mandiri dan semangat untuk maju karena Astra terus memberikan rasa kepedulian (care & awareness) kepada mereka. Kalau empat pilar program tersebut tercapai, dapat dipastikan, Kampung Cengkeh Turi di Jalan Sabit Lingkungan VI Kelurahan Cengkeh Turi, Kecamatan Binjai Utara, Sumatera Utara ini bisa dijadikan contoh bagi kampung-kampung lainnya.
Dalam proses pengembangannya, ada lima jenis Kampung Berseri Astra, yaitu kampung wisata, kampung hijau, kampung produktif, kampung cyber, dan kampung budaya.
Nah, Kampung Cengkeh Turi ini termasuk dalam kategori Kampung Berseri Astra Produktif. Artinya, kampung ini merupakan salah satu konsep kampung mandiri yang mampu menjadi pusat pembelajaran dan memenuhi kebutuhan sendiri melalui kegiatan produktif dan meningkatkan kualitas hidup di bidang pendidikan, lingkungan, kesehatan dan pemberdayaan ekonomi.
Didirong semangat Astra Terpadu untuk Indonesia (SATU Indonesia) yang merupakan program nyata dari Astra Group untuk berperan aktif dalam memberikan kontribusi, meningkatkan kualitas masyarakat Indonesia melalui karsa, cipta, dan karya terpadu untuk memberikan nilai tambah bagi kemajuan bangsa Indonesia, Kampung Cengkeh Turi sudah memiliki dua pilar yang bagus. Yakni Pilar Kewirausahaan atau Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan Pilar Pendidikan. Dibutuhkan dua pilar lagi untuk mencapai kriteria bintang lima sehingga para warga tampak antusias dan saling membahu dalam mewujudkannya.
Di tengah semangat itu, tentu saatnya pula KBA Cengkeh Turi perlu merintis pengolahan sampah dedaunan dan ranting pohon menjadi energi baru terbarukan yakni arang briket yang bisa dipakai untuk memasak.
Saran ini datang dari Penggiat Tata Kelola Sampah yang juga Dosen Fisika Universitas Sumatera Utara Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si.
Kepada Penulis di Medan, Kamis 27 Oktober 2022.
Menurutnya, warga KBA Cengkeh Turi bisa memulai dari mengumpulkan semua sampah dedaunan dan ranting pohon yang berserakan di kampung tersebut. Setelah dikumpulkan lalu dibilas dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran atau najis yang mungkin melekat.
Selanjutnya daun dan ranting yang sudah dibilas dijemur hingga kering. Setelah kering bisa dibakar dalam drum yang ditutup tapi di beberapa bagian atas diberi sebanyak 6 atau 8 lubang berdiameter 2 Centimeter.
Setelah terbakar menjadi serbuk lalu diayak dan didinginkan untuk kemudian dicampur dengan tepung tapioka dengan kekentalan adonan 20 persen air. Setelah menjadi adonan lalu dicetak seperti mencetak kue putu bambu kemudian dijemur hingga kering.
Setelah benar-benar kering, kata Dr. Muhammad Sontang Sihotang, sudah bisa dipakai langsung untuk memasak di tungku arang.
“Ketahanan panasnya bisa bertahan selama 4 jam. Sehingga sangat efektif untuk memasak atau memanggang makanan. Hasil bakarannya dijamin sehat karena sudah melalui proses fisika.
Dari kreatifitas memanfaatkan sampah dedaunan dan rating kering itu, sebut, Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si, M.Si, tidak hanya lingkungan menjadi bersih, tapi arang briket yang dihasilkan juga bisa dijual ke konsumen yang membutuhkan dengan harga per kilogramnya Rp 10 ribu. Atau dipakai sendiri untuk menghemat pemakaian gas (LPG).
Kiranya inovasi kreatifitas tersebut dapat diterapkan KBA Cengkeh Turi untuk menambah nilai penerapan KBA kategori Produktif dan aspek Lingkungan. Semoga bermanfaat *** (Tulisan ini diikutkan untuk Anugerah Pewarta Astra 2022)

Dr. Muhammad Sontang Sihotang (kiri) bersama tim saat memproses produk arang briket dari sampah dedaunan dan ranting kering. (Foto: Penulis)
