Dr. H. M. Zahrin Piliang, M.Si
Pimpin MABSI Sumatera Utara

Pengurus MABSI Sumatera Utara 2022-2026 yang dikukuhkan.
MEDAN: koranmedan.com
Dr. H. M. Zahrin Piliang, M.Si dikukuhkan Gubernur Sumatera Utara H. Edy Rahmayadi menjadi Ketua Majelis Adat Budaya Pasisi (MABSI) Sumatera Utara periode 2022-2026 dalam suatu prosesi acara adat pesisir Pantai Barat Sumatera Utara (Sumut) di Aula Tengku Rizal Nurdin Komplek Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Jalan Sudirman 41 Medan, Sabtu (4/3/2023).
Hadir saat itu unsur Forkopimda Sumut beserta jajaran, Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara Hidayat Widiyanto, para akademisi, sejarawan, anthropolog, para Pimpinan Lembaga Adat dan Budaya dari 8 etnis (Mandailing, Angkola, Melayu, Pakpak, Karo, Simalungun, Nias, dan Toba), Badan Musyawarah Masyarakat Minang, Komite Seni Budaya Nusantara (KSBN) Sumatera Utara, Badan Pelestarian Budaya Daerah, Aceh Sepakat, Ikatan Pemuda dan Pelajar Natal dan Sekitarnya, Paguyuban Warga Sunda, Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Sumatera Utara, Ketua Pengurus Indonesia Tionghoa (INTI) Sumut Dr. Indra Wahidin, Keluarga Besar Alumni HMI yang tergabung di KAHMI Sumut, DR. Dr. Delyuzar, Sp.PA dari Majelis Daerah KAHMI Medan, dan undangan lainnya.
Bersama Zahrin Piliang turut dikukuhkan Wakil Ketua Dr. H. Hasnan Syarief Panggabean, MPd, Sekretaris Dr. Irwan Syari Tanjung, SE, MM, Wakil Sekretaris Asy’ari Hudayat Sihite, SE, M.Si, Bendahara Masran Munthe, S.Sos, M.Si, Wakil Bendahara H. Sahminan, SE, MPd.
Kemudian Koordinator Bidang Penelitian dan Pengembangan Dr. H. Irfan Simatupang, M.Si dengan Anggota Dr. H. M. Sultoni B. Silalahi, MA. Dr. Dudut Tanjung, Nurdin Ahmad, Siti Zubaidah Siregar, S.Pd, MM. Refelina Puspita, S.Pd, M.Pd. Soeandi Malik Pratama, S.Pd dan Ali Muddin Simanullang, SH.
Koordinator Bidang Budaya Kreatif dan Kewirausahaan M. Ali Nafiah, S.Psi dengan Anggota Abdul Rahman, SE. Drs. Raja Bongsu Hutagalung, M.Si dan Irwansyah Harahap, ST.
Koordinator Bidang Humas Dr. Hasrudy Tanjung, SE, M.Si dengang Anggota Henki Tanjung, SH. Drs. H. Mardana Nainggolan dan Safii Siregar, SE, MM.
Koordinator Bidang Bahasa dan Sastra Pasisi Sofyan Tanjung dengan Anggota Ir. Fadmin P. Malau, Syafriwal Marbun, Kastamansyah Hutabarat dan Drs. Subhan H. Nanda Tanjung.
Koordinator Bidang Ritual Budaya dan Norma Sosial H. Astar ‘Ain Tanjung, BA dengan Anggota Sri Widiarti Hasibuan. Drs. Ahmad Al Pahri Mtd dan Kartini Simbolon.
Bidang Arsitektur dan Ornamen (Rumah Adat), Koordinator Ir. Kasmir Tanjung, MT dengan Anggota Ir. Hasanuddin Nainggolan. Sahat Simatupang, SE, MM. Khasiat Nainggolan dan Kurnia Abdi Pasaribu.
Bidang Makanan Khas, Koordinator Syarifuddin Falam, SE dengan Anggota Hj. Wari’ah Hutagalung. Hj. Rahmy El Fitrina Tanjung, Am.Keb. Hj. Syarifah Hutagalung dan Hj. Nazma Hutajulu.
Bidang Seni Sikambang, Koordinator Kasman Simatupang, SH dengan Anggota Noverkhan. Sudirman Panggabean dan Hafdar Chaniago.
Sudah Lama
Zahrin Piliang dalam sambutannya mengatakan, rencana pengukuhan ini sebenarnya sudah lama, sejak bulan Januari lalu, namun baru sekarang dapat dilaksanakan.
“Mengapa tertunda terus? Tidak lain, karena kami warga masyarakat adat dan budaya pasisi Tapanuli Tengah-Sibolga sangat merindukan kehadiran Bapak Gubernur di tengah-tengah kami. Berbagai acara Pak Gubernur yang tak bisa dielakkan, mulai dari kegiatan Hari Pers Nasional yang dipusatkan di Medan, acara Barus Bersholawat, dan event Formula 1 PowerBoat di Balige yang menyita perhatian Pak Gubernur. Hingga semua kegiatan tersebut berlalu, kami masyarakat adat dan budaya pasisi dengan sabar menunggu kedatangan Pak Edy Rahmayadi di moment pengukuhan ini. Atas kehadiran Bapak Gubernur, dan kesediaan Bapak mengukuhkan kepengurusan MABSI 2022-2026 ini kami ucapkan terima kasih,” ujar Zahrin mengawali sambutannya.
Lebih lanjut disampaikan Zahrin Piliang,
“Kedatangan Pak Gubernur bersama undangan lainnya, kami sambut dengan tari persembahan pasisi. Tetapi kami juga menyambut Pak Gubernur dan tamu sekalian, kami jemput juga dengan tari persembahan Melayu Deli. Mengapa kami juga menyambutnya dengan tari persembahan Melayu Deli. Tiada lain maksud yang dikandung kecuali untuk menempatkan dusanak kami suku Melayu, menjadi Tuan di negeri tempatan ini. Dengan menampilkan tari persembahan Itulah salah satu bentuk apresiasi kami kepada negeri Deli tempat kami orang Tapanuli Tengah-Sibolga bermukim kini.. Di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung, di mana ranting dipatah, disitu air di sauk, di mana tembilang dihentakkan di situ tanaman di tumbuhkan, dan karena itu, di situ pula adat tempatan diikuti. Orang Tapanuli Tengah-Sibolga harus memelihara kesantunan budi pekerti itu,” tutur Zahrin.
Menurut mantan aktivis HMI dan Anggota DPRD Sumut itu, sebagian orang mungkin bertanya-tanya, apa sebenarnya pasisi ini. Apalagi Ketuanya bersuku Piliang – yang merupakan salah satu suku utama di Minangkabau selain Koto, dan Chaniago.
“Memang di situlah uniknya urang pasisi. Saya Zahrin Piliang, bak kata atau ungkapan berikut ini, bukan pinang sembarang pinang, pinang di tanam di tapi pasi, si Zahrin ini, bukan minang sembarang minang, minang sudah menjadi sumando urang pasisi (pesisir). Tapanuli Tengah dan Sibolga sarat dengan aneka suku bangsa. Almarhum Bapak Tengku Rizal Nurdin pernah mengatakan, Sibolga negeri berbilang kaum. Ungkapan berikut membuktikan itu. Asam kandis asam belimbing, jangan dicampur dengan kue lupis, urang pasisi bersuku Mandailing, itulah dia sanak kami ogek Afifi Lubis.. Simangambat di Padang Lawas, jalan berkelok ke Gunung Tua, Di MABSI ada Dewan Pengawas, Ketuanya sanak kita Irmansyah Batubara.. Pancuran dewa di kota Siboga, Kota ketek di sabalah gunung, itulah uning kami, Hj. Halimah Hutagalung. Banyak urang pasisi dari Batak Toba, Bukan kampak sembarang kampak, kampak terbuat dari besi, bukan Batak sembarang Batak, Batak sudah menjadi urang pasisi. Ke Sipahutar membeli nenas, untuk disantap bersama nasi kapau, di pesisir pun ada suku Nias, itulah orang tua kami Zakaria Yahya Lafau,” papar Zahrin Piliang.
“Begitulah Pak Gubernur, pasisi memang unik, tapi juga sekaligus menyedihkan. Secara antropologis, pasisi diakui sebagai suatu suku karena ada penutur bahasanya. Perda No 8 Tahun 2017 menyebutkan pasisi merupakan salah satu etnis di Sumatera Utara. Menyedihkannya, seperti kata Dr. Irfan Simatupang, dicatatan administrasi kependudukan, hanya ada kolom untuk suku Jawa, Batak Toba, Mandailing, Karo, Melayu, Pakpak, Nias, Sunda, Minang, Bugis, Aceh, dll, namun tak tersedia kolom untuk pasisi. Karena itu eksistensinya dipertanyakan,” sebut Zahrin.
Pasisi memang menyimpan segudang tanya. “Nagari saiyo sakato ini memang menyimpan banyak misteri, yang terkubur di situs Lobutua, Barus (sekarang masuk Kecamatan Andam Dewi), dan yang terbaru situs Bongal, di Jago-jago dekat Pinangsori. Kedua situs ini menantang para sejarawan, anthoropolog, arkeolog, dan para akademisi lainnya untuk mengungkap misteri itu. Makam papan tinggi, makam mahligai, eks Masjid Raya Barus, hanyalah sebagian dari saksi peradaban kota tua Barus, sehingga Presiden RI menetapkan salah satu titik di pantai Barus sekarang sebagai penanda titik nol masuknya Islam di Nusantara. Penetapan itu tidak salah, karena di situs Bongal yang lebih tua 200 tahun dari situs Lobutua, telah ditemukan koin emas mata ung dinar masa kekhalifahan Abbasiyah di abad VII. Itu artinya, Islam sudah masuk ke Barus pada masa-masa awal munculnya Islam di jazirah Arab. Para sahabat Rasulullah SAW sudah menyebar ke kawasan Pantai Barat sumatera Utara ini di abad-abad awal formatif Islam. Tetapi jauh lebih tua dari itu, adalah keberadaan kapur Barus yang menjadi bahan pengawet mayat Fir’aun. Itu berarti, sebelum masehi, Barus adalah pusat bandar perdagangan internasional, yang tidak hanya berupa kapur barus, melainkan juga rempah-rempah lainnya. Dengan demikian, Pantai Barat Sumatera Utara sesungguhnya merupakan area perdagangan internasional yang komoditinya rempah-rempah. Dengan ini hendak dikatakan, benarkah Indonesia Timur sebagai pusat perdagangan rempah-rempah internasional di masa lalu?,” ungkap Zahrin Piliang.
Misteri Wilayah Pasisi
Masih kata Zahrin, “Inilah sebagian dari misteri di wilayah pasisi ini. Kami sendiri, di MABSI ini mulai bertanya, dari manakah asal usul ughang pasisi ini? Mengapa bahasanya dominan berasal dari kata-kata orang berbahasa Minang? Tetapi juga sedikit pengaruh Bahasa Batak? Dari berbagai sumber yang didapat, memang, orang minang sudah berimigrasi ke kawasan Tapanuli Tengah atau Barus Raya, hingga Singkil, Meulaboh, Pulau Banyak, Natal, Nias hingga ke negeri IX Malaysia, sejak sekitar abad ke 14 lalu. Di Aceh, para perantau Minang ini dan suku-suku lain yang non Aceh disebut Aneuk Jamee (anak tamu), sedang di sekitar Tapanuli Tengah, Natal, dan sebagian Nias menjadi ughang pasisi. Begitu pula dengan asal usul Bahasa Indonesia. Balai Bahasa Sumatera Utara, dalam salah satu penelitiannya mengungkapkan bahwa kuat dugaan linguafranca Bahasa Indonesia berasal dari Bahasa Melayu Pesisir, bukan dari Bahasa Melayu Riau. Hal itu merujuk pada syair-syair yang ditulis oleh Hamzah Fansuri, seorang ulama sufi dari Barus, yang hidup di abad 16. Sementara itu di Riau, Raja Ali Haji, si penulis Gurindam 12, hidup hidup di abad ke 19 (1808-1873). Jadi, terdapat selisih masa 300 tahun antara Hamzah Fansuri dan Raja Ali Haji. Sedang kata gurindam sendiri, di masyarakat Tapanuli Tengah-Sibolga dikenal Gurindam Barus. Adakah hubungan kata Gurindam Barus ini dengan Gurindam 12 dari Raja Ali Haji ini? Ini salah satu misteri yang sepertinya patut ditelusiri oleh Balai Bahasa Sumatera Utara,” terang Zahrin Piliang .
Melihat demikian banyaknya misteri yang tersimpan seperti yang disebutkan, kata Zahrin, pihaknya di MABSI bersepakat fokus MABSI adalah pada adat dan budaya pasisi, yang para penuturnya bukan hanya di kawasan Tapanuli Tengah-Sibolga, melainkan juga dusanak yang berada di Natal, Tabuyung, Singkil, Meulaboh, Pulau Banyak, dan Nias, walau dengan logatnya yang beda-beda tipis.
“MABSI berharap ke depan ini akan ada dialog bersama, dengan dusanak kami sebagai penutur Bahasa Pasisi di luar Tapanuli Tengah, yang difasilitasi oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara di bawah kepemimpinan Bapak H. Edy Rahmayadi,” pungkas Zahrin Piliang dalam sambutannya.
Sementara Gubsu H.Edy Rahmayadi dalam sambutannya mengapresiasi kehadiran MABSI Sumatera Utara. “Semoga kehadiran MABSI ikut bersama-sama dengan etnis lainnya untuk bahu-membahu memajukan Sumatera Utara yang sejahtera dan bermartabat,” harap Gubsu.*** (War)
Foto:
Suasana pengukuhan MABSI Sumatera Utara, Sabtu (4/3/2023)
