Hakikat Puasa Selain Meraih Takwa Juga Untuk Mengembalikan Fitrah Manusia
Wakil Gubernur Sumut yang juga Ketua DPD Partai Golkar Sumut H. Musa Rajeksah, S.Sos, M.Hum (kanan) bersama Dewan Pertimbangan Drs. H. Muhyan Tambuse menyerahkan santunan kepada dhuafa di sela Silaturahmi dan Buka Puasa Golkar Sumut di pelataran Masjid Al-Musannif Komplek Perumahan Cemara Asri, Sampali, Deliserdang.
DELISERDANG: koranmedan.com
Hakikat Puasa (Syiam) selain bertujuan meraih takwa (la’allakum tattaquun) ternyata juga bertujuan untuk mengembalikan kesucian (fitrah) manusia.
Hal itu dikemukakan Guru Besar Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) Prof. Dr. Akhyar Zein pada tausyiah Silaturahmi dan Berbuka Puasa Bersama Partai Golkar Sumut di Masjid Al-Musannif Komplek Perumahan Cemara Asri, Sampali, Deliserdang, Ahad (9/4/2023).
Lebih lanjut Ustadz Prof Dr. Akhyar Zein mengungkapkan, dalam penciptaan manusia Allah SWT selain menciptakan jasad dari tanah juga memberikan nafs atau nafsu.
“Nafsu ini terbagi dalam tiga sifat yakni (1) nafsu amarah (cenderung berbuat tidak baik), (2) nafsu lawwamah (nafsu yang tidak berpendirian), dan ketiga nafsu mutmainnah (keinginan untuk beriman, taat dan tenang). Dikaitkan dengan ibadah puasa, maka yang ingin kita hidupkan adalah nafsu mutmainnah ini. Sementara nafsu amarah dan lawwamah dilemahkan dengan puasa. Apabila nafs mutmainnah ini dapat kita raih dalam berpuasa, maka orang-orang yang beriman dan mengerjakan puasa Ramadhan dengan penuh keikhlasan semata karena Allah SWT di akhirnya akan mengembalikan dirinya kepada kesucian (fithrah) seperti bayi yang baru lahir tanpa dosa, subhanallah,” urai Prof Akhyar Zein seraya mengutip Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 28 yang artinya orang-orang beriman hati mereka menjadi tenang, tenteram (mutmainnah) dengan beribadah kepada Allah. Hanya dengan mengingat Allah (beribadah) hati menjadi tentram dan tenang.
Setelah meraih mutmainnah sikap lanjutan yang perlu diimplementasikan dalam hidup ini, kata Prof Akhyar Zein, adalah dengan selalu ridho dalam menerima ujian dan cobaan sebagai bagian dari takdir Allah. “Apabila capaian ini mampu dilakukan seorang hamba, maka seluruh makhluk termasuk Surga akan mencintainya. Subhanallah,” papar Prof Akhyar Zein.
Tauhid Langit dan Tauhid Bumi
Selain itu disampaikan Prof Dr. Akhyar Zein, dalam konteks keimanan ada dikenal dengan tauhid langit yakni wujud zikir kepada Allah (zikrullah), juga ada tauhid bumi yakni berbagi, bersedekah dan saling tolong-menolong.
“Apabila Puasa dan Tauhid bumi disatukan, maka Ekonomi Syariah akan bangkit dengan kata kunci berbagi. Ini bisa kita mulai dari diri sendiri. Mengentaskan kemiskinan harus dilakukan secara produktif melalui pendidikan atau bantuan ekonomi produktif. Di UIN Sumut, urusan mahasiswa miskin itu urusan kampus, yang dikelola melalui zakat, infak dan sedekah ZIS internal kampus. Di luar kampus, itu urusan pendidikan warga miskin bisa dikelola dari CSR atau ZIS Badan Usaha Milik Daerah (BUMD),” saran Prof Akhyar Zein seraya menggugah peran masjid yang jumlahnya 1.148 unit di sekitar Kota Medan jika kolektif mengumpulkan ZIS Rp 100 ribu saja per bulan lalu dihimpun akan banyak kegiatan Tauhid Bumi yang bisa dilakukan.
Hadir dalam acara Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Partai Golkar, Wakil Gubernur Sumut H. Musa Rajekshah yang juga Ketua DPD Partai Golkar Sumut, Mantan Sekda Provsu selaku Dewan Pertimbangan Partai Golkar Drs. H. Muhyan Tambuse, Ustadz Syauki Zainuddin MZ, sejumlah unsur pimpinan lintas Parpol Sumut, para fungsionaris Partai Golkar Sumut dan undangan lainnya.
Buka Puasa Bersama dan Silaturahmi Partai Golkar Sumut tersebut juga diwarnai penyerahan santunan kepada Bilal Mayit dan Penggali Kubur.
Ijeck panggilan akrab Musa Rajeksah di kesempatan itu mengatakan, Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama Golkar diharapkan terjalin komunikasi yang efektif antar lintas partai politik untuk bersaing secara sehat.*** (War)
