
Sebagai Pengrajin Keramik, Sugiono Akui Ada Permintaan Nyeleneh
Penulis: Aldi Aulia
DELISERDANG: koranmedan.com
Sebagai salah satu kerajinan yang juga memiliki nilai seni, tak jarang ada konsumen yang minta dibuatkan kerajinan keramik dengan bentuk gak masuk akal alias nyeleneh.
Hal itulah yang dijadikan Sugiono sebagai salah satu suka duka selama 13 tahun menjadi pengrajin keramik. Sebab permintaan tersebut ia jadikan sebagai tantangan.
“Di awal saya bilang, bengkel saya ini siap memproduksi segala jenis ukuran, mulai dari yang kecil sampai yang besar dan juga tergantung bentuk atau kerumitannya,” kata Sugiono saat ditemui di sanggarnya di Tanjungmorawa, Deliserdang, Kamis (25/5/2023).
“Ada beberapa pelanggan yang meminta dibuatkan yang rumit sampai nyeleneh itu ada. Jika ada permintaan seperti itu tidak langsung saya tolak, tapi saya jadikan tantangan,” sambungnya.
Menyikapi adanya permintaan seperti itu, Sugiono menyebut si konsumen memberikan contoh gambar lalu ia buat contohnya dan jika sesuai dengan keinginan konsumen baru silahkan pesan.
“Kalau gak sesuai, saya angkat tangan. Tapi Alhamdulliah, rata-rata dari contoh yang saya buat mereka cocok semua dan puas. Bahkan ada yang minta tambah (permintaan nyeleneh lainnya),” sebutnya dengan tertawa ringan.
Lebih lanjut, Sugiono mengaku kendala yang cukup rutin yang dialaminya yakni cuaca yang kurang bersahabat. Sebab keramik yang sudah dibentuk akan dijemur terlebih dahulu sebelum dibakar.
Sementara untuk bahan baku, terutama bongkahan tanah, Sugiono mengaku ingin terus menggunakan kualitas yang terbaik. Namun saat ini hanya ia dapat dari daerah lain yakni di Langkat.
“Selain itu, kalau permintaan banyak otomatis produksinya pun jadi lama. Karena saya membuat adonan ini masih manual (diinjak), gak pakai mesin penggiling. Kalau pakai alat itu satu kubik bisa satu hari, kalau manual bisa sampai empat hari,” bebernya.
Karena harganya cukup mahal berkisar Rp30 jutaan, lanjut Sugiono, dulu ada bantuan satu mesin untuk kelompok pengrajin. Di mana kelompok itu bisa sampai 20 pengrajin.
“Tentu gak mampulah satu mesin itu bisa mengayomi semuanya. Pastilah siapa yang gak pingin punya mesin sendiri, karena mesin itu bisa dibilang vitalnya usaha ini. Kalau ada mesin pasti saya bisa siap terima permintaan yang lebih banyak,” pungkasnya.***
