Keluarga Pasien Kecewa, Kinerja RSUD Tengku Mansyur Dipertanyakan

Ilustrasi, suasana bagian depan gedung RSUD Tengku Mansyur Kota Tanjungbalai.
T.BALAI: koranmedan.com
Pihak Rumah Sakit Umum Daerah Tengku Mansyur (RSUDTM) Kota Tanjungbalai terkesan lepas tangan terhadap komplain salah seorang keluarga dari pasien yang merasa dibohongi pihak RSU milik Daerah tersebut saat ingin melakukan perobatan penyakit yang dialami pihak keluarganya.
Namun Kepala Tata Usaha (KTU) RSUD Tengku Mansyur Kota Tanjungbalai dr. Andrew G Sitorus, M.K.M menyebutkan, pihak RSUD sudah melakukan prosedur pelayanan sesuai Standart Operasional Prosedur (SOP) terhadap pasien. Hasil dari pemeriksaan dokter spesialis pihak RSUD merekomendasikan agar pasien segera dirujuk kesalah satu RSU yang berada di Kota Medan.
“Sudah kami (RSUDTM, red) tangani sesuai prosedur, sebagaimana hasil pemeriksaan dokter spesialis yang memeriksa pasien. Kami tawarkan rujuk ke RSU di luar Kota Tanjungbalai untuk diperiksa lebih lanjut dengan alat yang lebih canggih di rumah sakit rujukan sehingga pihak dokter bisa mengambil kesimpulan tindakan apa yang akan dilakukan selanjutnya ” sebut dr. Andrew G Sitorus kepada wartawan, Senin (28/11/2023).
Mengenai RSU Sembiring menjadi tujuan rujukan, dr. Andrew membenarkan hal tersebut, namun terkait pelayanan kepada pasien di RSU yang menjadi rujukan dr. Andre tidak bisa memberikan komentar karena bukan kewenangan dari beliau, selain itu hasil pemeriksaan dari setiap RSU bisa berbeda.
“Awalnya si pasien dirujuk ke RSU Grand Medistra kemudian dialihkan ke RSU Sembiring, mengenai rawat jalan itu bukan kewenangan kita ” ujar KTU RSUD Tengku Mansyur.
Sebelumnya Ade Stefani anak dari pasien kepada wartawan mengatakan, ibunya datang ke RSUD tengku Mansyur awalnya hanya ingin melakukan pemeriksaan dan rawat jalan, namun oleh pihak RSUD Tengku Mansyur menganjurkan rawat inap untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.
“Pihak rumah sakit menyuruh rawat inap bang, awalnya mamak saya tidak mau, kata pihak RSUD Tengku Mansyur mau di ronsen maka mamak saya setuju bang. Tapi saat kami tanya mamak kami, katanya tidak di ronsen, kami tanya pihak rumah sakit jawabnya dironsen. Saat keluarga meminta dan tanya hasil ronsen mereka tidak bisa menunjukkannya bang,” ungkap Ade Stefani.
Lebih lanjut, Ade mengatakan setelah 2 (dua) hari dirawat di RSUD T. Mansyur, pihak RSUD menawarkan pasien dirujuk ke Rumah Sakit yang berada di Medan yang memiliki alat lebih lengkap agar dapat dilakukan pemeriksaan melalui MRai.
“Awalnya ayah saya menolak untuk dirujuk bang, karena kasihan lihat mamak, tapi belakangan ayah setuju untuk dilakukan rujuk. Saat kami berada di RSUD Sembiring, pihak RSU heran setelah membaca berkas kami. Pihak dokter bilang bahwa pihak RSUD T. Mansyur sudah mengetahui bahwa rumah sakit mereka tidak memiliki alat MRai tapi kenapa dirujuk kesini. Ayah mencoba menelpon pihak RSUD T. Mansyur namun tidak ada yang menjawab. Sehingga kami merasa telah dipermainkan oleh RSUD Tengku Mansyur Kota Tanjungbalai bang,” tegas Ade Stefani.*** (Syafrizal Manurung)
