40 Hektar Lahan Tambang PT AR di Batangtoru Berhasil Dihutankan Kembali
Area Tambang Emas Martabe di Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan.
TAPSEL: koranmedan.com
Seluas 40 hektar lahan tambang di Batangtoru Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) berhasil dihutankan kembali oleh program reklamasi PT Agincourt Resources (PT AR) pengelola Tambang Emas Martabe.
Beberapa wartawan dari Medan diantaranya wartawan senior berkompetensi utama Zulfikar Tanjung mendapat kesempatan melihat langsung proses pembibitan pohon hutan dan reklamasi itu di kawasan Batangtoru, Kamis (25/7/2024).
Kunjungan peninjauan sebagai bentuk transparansi sekaligus untuk memberikan pemahaman langsung kepada publik, sehingga PT AR pengelola Tambang Emas Martabe mengundang sejumlah wartawan untuk meninjau beberapa area yang telah direklamasi.
Kunjungan difasilitasi Katarina Siburian Hardono Senior Manager Corporate Communications PT AR bersama Manager Public Relations, Renny Radhan.
Para jurnalis diajak melihat langsung proses dan hasil dari reklamasi, termasuk bagaimana flora dan fauna kembali ke habitat mereka.
“Kami ingin menunjukkan bahwa reklamasi bukan hanya sekedar kewajiban, tetapi juga bagian dari tanggung jawab kami untuk menjaga lingkungan. Kami berharap ini terus menjadi komitmen bersama bagi industri tambang,” ujar Katarina.
Pengelola Tambang Emas Martabe di Batangtoru Tapanuli Selatan menunjukkan komitmen tersebut terhadap kelestarian lingkungan.
PT AR telah berhasil melakukan reklamasi pada lahan-lahan yang sudah tidak ada kegiatan lagi di wilayah kerja pertambangan. Reklamasi sudah mencapai 40 hektar sejak tambang emas mulai beroperasi pada tahun 2013.
Langkah ini melibatkan penanaman kembali berbagai jenis pohon hutan yang kini tumbuh subur, menciptakan ekosistem yang mendekati kondisi aslinya.
Mahyu Dharsono Harahap Environmental Rehabilitation Supervisor PT AR mengemukakan hal itu kepada wartawan di lokasi salah satu tambang emas terbesar di Indonesia tersebut di Batangtoru sebagaimana dilaporkan Intipos, Kamis (26/7/2024).
Dia menjelaskan proses reklamasi tidak hanya mengembalikan lahan yang pernah dieksploitasi, tetapi juga menghidupkan kembali flora dan fauna lokal.
“Kami bangga melihat areal yang direklamasi sudah mulai menghutan kembali. Ini menunjukkan ekosistem di sini dapat pulih dengan baik jika dikelola dengan benar,” ungkapnya.
Untuk mendukung upaya itu, PT AR telah menyiapkan fasilitas pembibitan (Nursery) yang terus melakukan riset dan pengembangan bibit pohon.
Saat ini, terdapat sekitar 40.000 bibit pohon, termasuk spesies hutan asli lokal, yang siap ditanam. “Kami tidak hanya menggunakan bibit untuk reklamasi internal, tetapi juga mendukung masyarakat sekitar dengan menyumbangkan sekitar 5.000 bibit pohon,” tambah Mahyu.
Langkah-langkah ini menunjukkan PT AR tidak hanya fokus pada produksi tambang, tetapi juga berkomitmen terhadap tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Dengan reklamasi diharapkan area tambang yang direklamasi dapat kembali menjadi hutan yang lestari dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Khusus Juni 2024 ini PT AR menanam 1.640 bibit pohon di area reklamasi dan 1.670 bibit pohon di hutan asli.
Sepanjang semester I/2024 jumlah bibit yang ditanam di area reklamasi sebanyak 4.567 bibit pohon dan di hutan asli 8.860 bibit pohon. Sementara, total area reklamasi hingga Juni tahun ini mencapai 64,52 hektar.
“Kegiatan reklamasi sejalan dengan kewajiban pemegang izin usaha pertambangan (IUP) dalam memenuhi aspek pengelolaan lingkungan pertambangan, reklamasi, serta pascatambang dan pascaoperasi seperti yang diatur dalam Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 26 Tahun 2018,” jelasnya.
Di bidang pembibitan tanaman, PT AR telah memperluas Nursery menjadi 6.000 meter persegi, dua kali lipat dari luas awal.
Dia mengatakan perluasan Nursery diharapkan dapat mendukung kegiatan riset serta inovasi dalam pengelolaan lingkungan dan keanekaragaman hayati di sekitar Tambang Emas Martabe.
“Selain untuk meningkatkan produksi bibit, kami memperluas Nursery untuk mendukung kegiatan reklamasi pascatambang dan menunjang program keanekaragaman hayati,” jelasnya.
Perluasan Nursery juga mencakup pembangunan laboratorium mikoriza yang dapat digunakan untuk menganalisis jumlah dan spesies spora dan individu mikoriza dari area reklamasi dan hutan asli.
“Hasil penelitian tersebut digunakan untuk mengidentifikasi rekomendasi yang tepat dalam mendukung proses reklamasi lahan secara optimal.
Ditambah lagi, replikasi program dapat menghasilkan pupuk hayati mikoriza yang dapat digunakan di area operasional Martabe dan masyarakat sekitar,” terangnya.
Nursery memproduksi bibit tanaman lokal. Jenisnya antara lain Torop (Artocarpus elasticus), Simarbaliding (Ixonanthes reticulata), Medang (Litsea elliptica), Pulai (Alstonia scholaris), Kapur Barus (Dryobalanopssp), dan Kruing (Dipterocarpus sp).
Sejumlah metode pembibitan diterapkan di Nursery. Salah satunya, seed ball yang merupakan bulatan kecil berdiameter 20-30 centimeter berisi tanah pucuk, pupuk kompos, dan biji-biji tanaman. Benih tanaman tersebut nantinya dilempar ke area hutan alam atau area reklamasi, khususnya untuk keperluan pengayaan tanaman lokal maupun restorasi ekosistem.
Selain dilempar langsung, seed ball bisa menggunakan bantuan helikopter (aeroseedling).
Metode lain yang diterapkan di Nursery PTAR antara lain pengembangan teknologi kultur jaringan, penanaman pillow ball, dan penanaman hydroseeding.*** (Intipos/War)
