Energi Alternatif yang Beragam Solusi Antisipasi Pengganti BBM dan LPG
Kepala Laboratorium Inti Fisika Nuklir Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si.,M.Si.
Catatan: Zul Anwar Ali Marbun, Wartawan Koranmedan.com
Mengantisipasi akan habisnya bahan bakar minyak (BBM) beserta Liquified Petroleum Gas (LPG) yang bersumber dari fosil termasuk Batubara perlu dicarikan sumber-sumber energi alternatif yang terbarukan. Hal ini sekaligus untuk memenuhi permintaan energi yang tetap meningkat baik secara domestik maupun internasional.
Karena itu pengadaan bahan pengganti energi fosil harus segera diimbangi dengan penyediaan sumber-sumber energi alternatif terbarukan yang jumlahnya cukup melimpah dan murah hargannya sehingga terjangkau bagi seluruh masyarakat.
Demikian diungkapkan Kepala Laboratorium Inti Fisika Nuklir Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara (FMIPA USU) Dr. Muhammad Sontang Sihotang, S.Si.,M.Si kepada koranmedan.com di Medan, Selasa (16/9/2025) menyusul rampungnya Analisis SEM Baking Filter Dust (limbah) PT. Inalum dan Arang Tempurung Kelapa sebagai sumber energi dalam bentuk arang briket.
Selain itu sebut Sontang Sihotang, ada banyak sumber energi alternatif terbarukan di Indonesia yang bersumber dari limbah seperti sampah organik biomassa yang cukup potensial. Antara lain berasal dari limbah-limbah pertanian, limbah industri, dan limbah pasar-pasar tradisional. Sumber biomassa tersebut bisa diubah dan digunakan sebagai bahan bakar alternatif dalam bentuk pelet jumputan padat (cofiring) dan arang briket.
“Menurut data Indonesia Energy Outlook, biomassa ini memiliki cadangan 3.000 Giga Watt atau setara dengan 225 juta barel minyak bumi,” jelas Sontang yang pernah mendapat Sertifikat Analisis dari Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral RI atas hasil analisis Serbuk dari Arang Tempurung yang dilakukan beberapa waktu lalu.
Potensi biomassa sangat signifikan jika digunakan sebagai sumber-sumber energi alternatif pengganti BBM terutama untuk kebutuhan energi rumah tangga,
menggantikan minyak tanah yang telah dipangkas subsidinya oleh negara.
Menurut hasil observasi lapangan, kata Muhammad Sontang Sihotang, pabrik peleburan timah PT. Inalum di Kabupaten Batubara menghasilkan 30 ton lebih Baking Filter Dust perbulan yang dikumpulkan di gedung B2 departemen carbon. total BFD dari tahun 2009 – 2021 adalah : 1.239.450 Kg yang belum termanfaatkan.
“Karena regulasi, industri tidak diperbolehkan untuk menjual atau membuang limbahnya langsung ke lingkungan tanpa pengolahan yang tepat. Mereka harus dalam batas tertentu, melakukan penelitian untuk menemukan cara terbaik menyelesaikan limbahnya,” jelas Muhammad Sontang Sihotang.
Sebagai contoh, industri Inalum di Indonesia menghasilkan, sekitar 115 ton per hari carbon dust dari proses peleburan aluminium yang biasa disebut Baking Filter Dust. Karbon tersebut memiliki karbon yang relatif tinggi hingga 85 %, yang berpotensi untuk diubah menjadi karbon aktif.
“Namun demikian, data yang tersedia terbatas dalam menggunakan limbah ini sebagai produk yang bermanfaat. Karena itu, penelitian berkelanjutan harus dilakukan untuk mengatasi limbah yang menumpuk,” jelas Sontang Sihotang yang juga dikenal sebagai ahli Sosial Engineering dan Hypermetafisika Tasawuf.***
