General Manager (GM) Pengelola Geopark Kaldera Toba Unesco Sumatera Utara Azizul Khais (kanan) didampingi moderator Rifki Warisan menyampaikan paparan di depan peserta Rapat Kerja Wartawan Pemprovsu di Parapat, Sabtu (27/6/2026).
Azizul: Kaldera Toba Fenomena Bentukan Alam yang Dahsyat
PARAPAT: koranmedan.id
General Manager (GM) Pengelola Geopark Kaldera Toba Unesco Sumatera Utara Azizul Khais kepada peserta Rapat Kerja Wartawan Pemprovsu di Mess Pora-Pora Parapat,Sabtu (27/6/2026) mengungkapkan bagaimana terbentuknya Danau Toba secara ilmiah.
Dijelaskan, Danau Toba terbentuk akibat letusan sangat dahsyat dari supervolkano (Gunung Toba purba) sekitar 74.000 tahun yang lalu. Erupsi ini meluluhlantakkan daratan, menyisakan kawah raksasa (kaldera) yang terisi air. Sementara itu, Pulau Samosir di tengahnya merupakan bagian dasar kaldera yang terangkat ke atas.
Proses terbentuknya Danau Toba, sebut Azizul, dapat dilihat dari dua sisi yang berbeda. Pertama secara Sains (Geologis) di mana Letusan Supervolkano
Gunung Toba meletus dengan kekuatan skala tertinggi VEI 8.
Peristiwa itu, lanjut Azizul, melontarkan 2.800 km³ material vulkanik yang mengubah iklim global dan memicu kepunahan massal.
“Pembentukan Kaldera setelah letusan besar, bagian puncak gunung runtuh ke dalam ruang magma yang kosong, membentuk cekungan sangat luas.Terbentuknya Danau & Pulau. Seiring berjalannya waktu, cekungan ini terisi oleh air hujan dan mata air. Tekanan magma di bawahnya kemudian mendorong sebagian dasar kaldera ke atas, yang kini dikenal sebagai Pulau Samosir,” tutur Azizul.
Sementara secara Legenda (Cerita Rakyat), ungkap Azizul, masyarakat sekitar kawasan Danau Toba meyakini danau tersebut berasal dari kisah seorang petani bernama Toba yang menangkap ikan ajaib. Ikan tersebut berubah menjadi wanita jelita dan dinikahi oleh Toba dengan syarat ia tidak boleh menceritakan asal-usul istrinya.
Suatu hari, Toba melanggar janji tersebut karena marah kepada anaknya, Samosir. Akibatnya, sang istri mendatangkan banjir bandang yang sangat besar hingga menenggelamkan seluruh lembah. Genangan air inilah yang berubah menjadi Danau Toba, dan daratan tempat anak mereka menyelamatkan diri menjadi Pulau Samosir.
Sebagai kata kunci, harap Azizul, para wartawan dapat mengInformasikan lebih lanjut terkait keajaiban alam dan sejarah geologi Danau Toba dari berbagai sisi serta pentingnya peran semua pihak untuk melestarikan dan menjaga hutan, air, hewan, tumbuhan dan aspek budaya lokal masyarakat kawasan Danau Toba.*** (Zulmar)
