Generasi Masa Kini Harus Waspadai Gerakan “Devide Et Impera”
Catatan Zul Marbun, Wartawan Koranmedan.com.id
“Devide et impera” atau “politik pecah belah” bukan lagi sekadar catatan usang di buku sejarah kolonial. Strategi klasik yang dahulu digunakan penjajah untuk menguasai Tanah Air Indonesia ditengarai kini lahir kembali dalam bentuk yang jauh lebih canggih, tidak kasat mata, dan menyasar langsung generasi muda.
Di era digital, taktik pembenturan sesama anak bangsa, tidak lagi dibawa oleh kompeni bersenjata, melainkan menyusup melalui algoritma media sosial, hoaks, dan manipulasi opini publik.
Anatomi Devide et Impera di Era Digital
Jika dahulu kolonialisme memecah belah kerajaan melalui konflik takhta, hari ini persatuan generasi muda digembosi melalui polarisasi isu-isu sensitif.
Beberapa medium yang sering digunakan untuk memecah belah generasi saat ini antara lain:
Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA)
Sentimen ini paling mudah dibakar untuk menciptakan benturan horizontal di media sosial maupun di keramaian publik.
Polarisasi Politik Ekstrem
Pengotak-kotakan masyarakat menjadi kubu-kubu yang saling membenci, bahkan jauh setelah kontestasi politik usai.
Konflik Antargenerasi
Narasi yang membenturkan antara Generasi Z, Milenial, dan Boomers, sehingga menciptakan ego kelompok dan mengikis rasa hormat serta kolaborasi.
Pertanyaan kemudian, mengapa generasi muda menjadi target utama?
Generasi muda merupakan motor penggerak bangsa. Dengan jumlah populasi yang mendominasi (bonus demografi), arah masa depan bangsa berada di tangan mereka. Ketika generasi muda solid, mereka menjadi kekuatan kritis yang sulit dikendalikan oleh kepentingan oligarki atau asing.
Sebaliknya, jika generasi muda sibuk bertengkar di kolom komentar, saling menjatuhkan karena perbedaan pilihan, dan terjebak dalam pusaran cancel culture, mereka akan kehilangan daya kritis. Bangsa yang pemudanya rapuh dan terpecah belah akan sangat mudah disetir, dikuasai ekonominya, dan dihancurkan karakter budayanya.
Strategi Membentengi Diri
Menghadapi ancaman ini, generasi masa kini tidak boleh pasif. Diperlukan langkah nyata untuk menangkal taktik pecah belah melalui sikap sebagai berikut:
Saring sebelum berbagi dengan kata lain “Jangan menjadi agen penyebar kebencian”. Caranya, verifikasi setiap informasi yang memicu amarah atau menyudutkan kelompok tertentu.
Keluar dari Echo Chamber di mana Algoritma media sosial cenderung menyajikan konten yang sesuai dengan preferensi kita, sehingga membuat kita merasa paling benar. Cobalah mendengarkan perspektif lain secara objektif.
Fokus pada Persamaan, bukan perbedaan. Artinya gelorakan keberagaman sebagai kekayaan, bukan sebagai celah untuk saling memusuhi.
Salurkan Energi ke aksi positif dengan cara mengalihkan energi berdebat di media sosial menjadi kolaborasi nyata, seperti membangun komunitas, inovasi teknologi, atau gerakan sosial.
Kata Kunci
Sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa kehancuran terbesar sebuah bangsa sering kali bermula dari dalam, bukan dari luar. Devide et impera akan berhasil jika kita menyediakan ruang bagi kebencian untuk tumbuh. Bagi generasi masa kini, menjaga persatuan bukan lagi sekadar slogan upacara, melainkan sebuah strategi bertahan hidup demi menjaga kedaulatan bangsa di masa depan. Semoga.
Teriring harapan, mari kita jadikan perbedaan sebagai rahmat. Di mana keragaman pandangan, pendapat, suku, agama, ras, golongan atau latar belakang merupakan karunia dan kasih sayang Allah Swt yang memberikan kemudahan, keluasan pilihan, serta sarana untuk saling melengkapi dan belajar, bukan untuk memicu perpecahan.***
