Ketua Dewan Pembina FORMAS Hashim S. Djojohadikusumo didampingi Ketua Panitia Drs. Khairul Mahalli dan lainnya saat meninjau kegiatan pameran di sela kegiatan konsolidasi nasional FORMAS.
Konsolidasi Nasional Formas Menuju Indonesia Maju
JAKARTA: koranmedan.com.id
Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS), Jumat 7 Agustus 2026 lalu menggelar konsolidasi nasional di Jakarta.
Hadir saat itu, Ketua Dewan Pembina FORMAS Hashim S. Djojohadikusumo; Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, M.A. Ketua Umum FORMAS Yohanes Handojo Budhisedjati, Rektor Universitas Indonesia Prof. Dr. Ir. Heri Hermansyah, S.T., M.Eng., IPU, Ketua Umum Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI), Dr. Ir. H. Erman Soeparno, M.B.A., M.Si, para Wakil Menteri, Pimpinan Lembaga Negara, para tokoh nasional, tokoh masyatakat, para Ketua Umum Ormas yg tergabung dalam FORMAS (dan IPHI), serta undangan lainnya.
Dalam laporannya, Ketua Panitia Drs. Khairul Mahalli yang juga Dewan Pakar dan Wakil Ketua Umum Perhubungan Logistik FORMAS menyampaikan rasa syukur atas rahmat Allah SWT sehingga
pelaksanaan Konsolidasi Nasional FORMAS bersama IPHI sekaligus pengukuhan organisasi masyarakat yang tergabung dalam FORMAS berlangsung dengan penuh makna.
Atas nama panitia, Khairul Mahalli menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, tenaga, waktu, dan pemikiran, sehingga kegiatan konsolidasi dapat terlaksana dengan baik. “Kehadiran Bapak dan Ibu menunjukkan bahwa, semangat persatuan dan pengabdian kepada bangsa, tetap hidup di tengah masyarakat Indonesia,” sebut Mahalli.
Selain itu diungkapkan Khairul Mahalli, setiap kali menyanyikan lagu Indonesia Raya sesungguhnya kita sedang mengucapkan sebuah ikrar. Pada bait kedua, kita diingatkan bahwa Indonesia adalah tanah pusaka, anugerah yang tidak kita ciptakan sendiri, tetapi kita warisi dengan segala keindahan, keberagaman, dan tanggung jawabnya. Menariknya, bait itu tidak diakhiri dengan seruan kemenangan, melainkan dengan ajakan, “Marilah kita mendoa, rakyat Indonesia bahagia”. Sebab para pendiri bangsa memahami bahwa, tujuan akhir sebuah negara, bukan sekadar menjadi maju atau kuat, tetapi menghadirkan kebahagiaan, bagi seluruh rakyat. Kebahagiaan yang lahir dari keadilan, persatuan, kesempatan untuk bertumbuh, serta harapan, yang dapat dirasakan oleh setiap warga.
“Lalu pada bait ketiga, kita tidak lagi hanya diajak mencintai negeri ini, tetapi diminta berjanji untuk menjaganya agar tetap abadi. Sebab sebuah bangsa tidak akan bertahan, hanya karena kekayaan alamnya, luas wilayahnya, atau megahnya pembangunannya. Bangsa akan tetap hidup, karena masih ada orang-orang, yang memilih mengabdi daripada sekadar hadir, memilih memberi daripada menerima, dan memilih menjaga daripada membiarkan. Momen ini mengingatkan kita bahwa pengabdian terbaik, bukanlah yang mencari pengakuan, melainkan yang menghadirkan manfaat. Karena ketika setiap dari kita bekerja dengan integritas, melayani dengan tulus, dan menjaga amanah dengan sepenuh hati, sesungguhnya kita sedang mewujudkan doa sederhana, namun agung yang telah dikumandangkan sejak lama: Indonesia bahagia, Indonesia abadi,” papar Mahalli.
Disampaijan Khairul Mahalli, semangat Indonesia bahagia dan Indonesia abadi itu, hadir dalam keteladanan para tokoh di tengah kita. “Terima kasih Bapak Hasyim, selaku ketua Pembina FORMAS, Bapak Menteri Agama Republik Indonesia, Bapak Rektor, serta para tokoh yang telah membuktikan bahwa kebesaran seorang pemimpin, terus diwariskan dari jejak pengabdian yang ditinggalkan bagi bangsa. Kehadiran beliau-beliau menjadi kebanggaan, sekaligus pengingat bagi kita semua bahwa, Indonesia akan selalu memiliki putra-putri terbaik, yang bersedia berdiri di garis depan, untuk menjaga persatuan, dan masa depan negeri ini,” ungkap Mahalli.
Lebih mendalam Khairul Mahalli mengungkapkan, pada 3 pekan lalu dalam kegiatan FORMAS dirinya mengangkat sebuah pesan: *laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang tangguh.* Namun, sejarah membuktikan bahwa, sejak dahulu Indonesia telah memiliki pelaut-pelaut tangguh. mereka yang berani menghadapi gelombang, membaca arah angin, dan tetap bergerak menuju tujuan.
“Hari ini, bangsa kita juga sedang mengarungi lautan besar, dengan berbagai tantangan, dan perubahan. Namun, kita patut yakin bahwa Indonesia saat ini memiliki kepemimpinan pemerintahan sekarang yang tangguh, berani mengambil keputusan, dan memiliki tekad kuat, untuk membawa bangsa ini menuju kemajuan,” tegas Mahalli.
Gelombang yang besar, imbuh Mahalli, bukan alasan bagi kapal Indonesia untuk kembali ke dermaga. Sebab, ketika nakhodanya tangguh dan seluruh awaknya bersatu, badai bukanlah akhir perjalanan, melainkan jalan menuju kemenangan.
“Karena itu, FORMAS dan seluruh organisasi masyarakat yg sudah tergabung, dan juga yang akan dikukuhkan, tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus menjadi bagian dari awak kapal bangsa: menjaga persatuan, mengawal pembangunan, memberikan pemikiran yang konstruktif, dan bergotong royong mendukung program-program pemerintah, yang berpihak pada kepentingan rakyat,” pesannya.
Pemimpin yang tangguh, lanjut Khairul Mahalli membutuhkan rakyat yang bersatu, sedangkan bangsa yang besar, membutuhkan masyarakat yang berani mengambil bagian.
“Semoga konsolidasi nasional ini, tidak berhenti sebagai sebuah seremoni, tetapi menjadi awal dari gerakan bersama yang nyata. Mari kita satukan langkah, kuatkan kolaborasi, dan buktikan bahwa, ketika pemerintah dan masyarakat bergerak dalam satu arah, tidak ada gelombang yang terlalu besar, untuk ditaklukkan oleh Indonesia,” pungkas Khairul Mahalli yang juga Ketua Umum Masyarakat Rempah Indonesia seraya menegaskan, FORMAS bersatu, masyarakat bergerak, Indonesia maju!*** (Zulmar)



