Aripay Tambunan: Kendalikan Inflasi dari Kandang, Dorong Sumut Jadi Sentra Ayam Petelur dan Potong
PARAPAT: koranmedan.com.id
Anggota DPRD Sumatera Utara Aripay Tambunan mendorong Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Pemprov Sumut) memperkuat produksi ayam petelur dan ayam potong berbasis kelompok masyarakat sebagai salah satu upaya mengendalikan inflasi.
Menurut Aripay, pengendalian inflasi tidak cukup hanya dilakukan ketika harga pangan sudah mengalami kenaikan. Pemerintah perlu memperkuat produksi dari hulu dengan memberdayakan masyarakat sebagai pelaku usaha peternakan.
Hal itu disampaikan Aripay di sela Rapat Kerja DPRD Sumut di Hotel Niagara, Parapat, Kabupaten Simalungun, Senin (31/8/2026).
“Jangan gara-gara harga ayam naik kemudian inflasi terganggu. Kita harus berpikir bagaimana produksi ayam ini bisa ditingkatkan di Sumatera Utara,” ujar Aripay.
Ia mengatakan, ayam dan sejumlah komoditas pangan lainnya seperti cabai merupakan komoditas yang harganya mudah berfluktuasi dan dapat memengaruhi inflasi. Karena itu, pemerintah perlu memastikan ketersediaan pasokan dengan meningkatkan produksi lokal.
Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap telur dan daging ayam akan terus meningkat. Jika produksi di Sumut tidak diperkuat, ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain akan semakin besar dan berpotensi membuat harga lebih mudah bergejolak.
Untuk itu, Aripay meminta Dinas Pertanian Sumut menjadikan pengembangan peternakan ayam sebagai salah satu program unggulan. Bantuan pemerintah, katanya, sebaiknya diarahkan kepada kelompok masyarakat yang memiliki kemauan dan potensi mengembangkan usaha peternakan.
Berawal dari Kandang Sederhana
Aripay menilai pengembangan peternakan ayam tidak harus dimulai dengan investasi besar. Pemerintah dapat mendorong masyarakat melalui pembangunan kandang-kandang sederhana yang dikelola secara berkelompok.
Ia memperkirakan satu kandang sederhana dapat dibangun dengan anggaran sekitar Rp1,7 juta hingga Rp2 juta, dengan kapasitas puluhan ekor ayam.
Jika pola tersebut dikembangkan secara masif melalui kelompok peternak, produksi telur dan daging ayam di Sumut diyakini dapat meningkat secara signifikan.
“Kalau kelompok-kelompok peternak ini kita dorong, terutama di daerah yang cocok untuk ayam petelur dan ayam potong, mereka bukan hanya menerima bantuan. Mereka menjadi bagian dari solusi pangan Sumatera Utara,” katanya.
Aripay menegaskan, masyarakat tidak seharusnya hanya ditempatkan sebagai penerima bantuan. Mereka harus diberdayakan menjadi pelaku produksi yang mampu menciptakan usaha dan pendapatan secara berkelanjutan.
Menurutnya, dukungan kepada kelompok peternak perlu diberikan secara terpadu, mulai dari pembangunan kandang, penyediaan bibit ayam dan pakan, pendampingan teknis hingga akses pemasaran.
Dengan pola tersebut, bantuan pemerintah diharapkan tidak berhenti sebagai program sesaat, tetapi berkembang menjadi usaha produktif yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kendalikan Harga dan Buka Lapangan Kerja
Aripay mengatakan, pengembangan peternakan ayam memiliki manfaat yang lebih luas, bukan hanya dalam menjaga stabilitas harga pangan.
Ketika masyarakat memiliki usaha peternakan, pendapatan keluarga dapat meningkat. Bertambahnya jumlah peternak juga membuka peluang kerja, sementara meningkatnya produksi telur dan daging ayam akan memperkuat pasokan pangan sehingga harga lebih mudah dikendalikan.
“Jadi manfaatnya ganda. Kita menjaga ketersediaan pangan, mengendalikan harga, sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Aripay juga berharap adanya perhatian Bank Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mendorong pengembangan usaha ayam potong dan ayam petelur.
Menurutnya, dukungan anggaran yang dapat mencapai sekitar Rp500 juta harus dimanfaatkan secara tepat untuk memperkuat kelompok peternak dan meningkatkan kapasitas produksi.
Bagi Aripay, Sumut membutuhkan kebijakan pengendalian inflasi yang tidak hanya bersifat reaktif ketika harga pangan sudah naik. Pemerintah harus mulai membangun ekosistem produksi pangan dengan melibatkan masyarakat.
“Jangan hanya berpikir bagaimana mengatasi inflasi ketika sudah terjadi. Kita harus mencegahnya dari sekarang dengan memperkuat produksi,” katanya.
Ia menilai, masyarakat dapat menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan dan stabilitas harga di Sumut.
Menurutnya, penguatan produksi dari tingkat kelompok masyarakat akan memberikan dampak berantai, mulai dari peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja hingga terjaganya pasokan pangan.
“Melawan inflasi bukan hanya soal menahan harga tetap rendah, tetapi memastikan masyarakat memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan yang mereka konsumsi sendiri,” pungkas Ariipay.*** (Tati R)
