Maulid RM Al-Iman, Ustadz UAS: Rasulullah Muhammad SAW Teladan Paripurna Setiap Insan
MEDAN: koranmedan com.id
Keteladanan Rasulullah SAW (Uswatun Hasanah) adalah wujud nyata dari seluruh ajaran Islam. Beliau bukan hanya menyampaikan wahyu berupa teori, melainkan mempraktikkannya langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Allah SWT menegaskan hal itu dalam Al-Qur’an yang artinya “Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” ungkap Ustadz Ahyar Saragih (UAS) mengutip Qur’an Surat Al-Ahzab ayat 21 dalam ceramah Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 Hijriah yang digelar Remaja Masjid (RM) Al-Amin Jl. Meteorologi Sampali Deliserdang beberapa hari lalu.
Sebagai sosok teladan yang paripurna, sebut UAS, gaya hidup dan perilaku beliau mencakup seluruh aspek kehidupan setiap insan manusia.
Berikut beberapa poin utama keteladanan Rasulullah SAW yang bisa ditiru, papar UAS.
Pertama, Keteladanan dalam Akhlak dan Kejujuran. Bahkan debelum diangkat menjadi Nabi, beliau sudah dijuluki Al-Amin (yang terpercaya) oleh masyarakat Mekkah karena tidak pernah berbohong.
Pemaaf Luar Biasa
Beliau tidak pernah mendendam. Ketika dihina, dilempari batu, dan diusir di Thaif, beliau justru menolak tawaran malaikat untuk menghancurkan kota tersebut dan memilih mendoakan agar keturunan mereka mendapat hidayah.
Rendah Hati (Tawadhu)
Beliau tidak pernah bertingkah seperti raja. Beliau menjahit pakaiannya yang robek sendiri, memperbaiki sandalnya sendiri, dan ikut bergotong-royong membangun masjid bersama para sahabat.
Keteladanan dalam Memimpin dan Berkeadilan
Sebagai kepala negara dan pemimpin umat, Rasulullah SAW menegakkan keadilan tanpa pandang bulu.
Tegas pada Aturan
Beliau pernah bersabda bahwa seandainya Fatimah (putri kandung yang sangat beliau cintai) mencuri, beliau sendiri yang akan memotong tangannya. Ini menunjukkan tidak ada nepotisme dalam hukum Islam.
Menghargai Musyawarah
Meskipun menerima wahyu, lanjut UAS, beliau selalu mengajak para sahabat berdiskusi untuk mengambil keputusan strategi perang atau masalah sosial lainnya.
Keteladanan dalam Rumah Tangga
Rasulullah SAW adalah sosok suami dan ayah yang paling lembut dan penyayang. Beliau bersabda “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya, dan aku adalah yang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku.” (HR. Tirmidzi).
Bahkan beliau Rasulullah tidak segan membantu pekerjaan domestik di rumah untuk meringankan beban istrinya.
Romantis dan Sabar
Beliau sering memanggil Aisyah radiallahu anhu dengan panggilan kesayangan “Humairah” atau pipinya yang kemerahan serta mendengarkan keluh kesah keluarganya dengan penuh perhatian.
Keteladanan dalam Ibadah dan Rasa Syukur
Meskipun dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang telah diampuni, ibadah Rasulullah SAW justru semakin dahsyat karena rasa syukurnya yang tinggi.
Beliau sering melakukan salat malam hingga kakinya bengkak. Ketika ditanya oleh Aisyah mengapa beliau melakukannya padahal sudah dijamin surga, beliau menjawab, “Afala akunu abdan syakura?” (“Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”).
Kemudian, keteladanan dalam hubungan sosial. Kepada non-Muslim sekalipun
beliau sangat menghormati hak-hak sesama manusia tanpa melihat latar belakang mereka seperti menghormati Jenazah non-Muslim
“Suatu hari, Rasulullah SAW berdiri menghormati iringan jenazah seorang Yahudi yang lewat. Ketika sahabat bertanya mengapa beliau berdiri, beliau menjawab, “Bukankah dia juga seorang manusia?” kisah UAS.
Terakhir selalu menjaga Perjanjian. Beliau Rasulullah SAW dikenal sangat menepati janji dagang maupun perjanjian politik (seperti Perjanjian Hudaibiyah) bahkan ketika perjanjian itu terlihat merugikan pihak Muslim di awal.
Lebih dari itu, lanjut UAS, kasih sayang Rasulullah SAW kepada umatnya sangat luar biasa dan tercatat indah dalam sejarah serta dalil-dalil syariat Islam.
Meskipun beliau adalah manusia yang paling mulia, maksum (terjaga dari dosa), dan sudah dijamin menjadi orang pertama yang membuka pintu surga, tegas UAS, fokus utama pikiran dan kekhawatiran beliau hingga akhir hayatnya tetaplah keselamatan umatnya.
“Bukti otentik yang menunjukkan betapa besarnya kasih sayang Rasulullah SAW yang melampaui cinta ayah dan ibu sekalipun adalah kalimat terakhir menjelang wafat. ‘Ummati, Ummati’ ucap beliau saat menghadapi sakaratul maut yang sangat berat. Rasulullah SAW tidak mengkhawatirkan diri sendiri, harta, maupun keluarganya. Kalimat yang terus keluar dari lisan mulia beliau adalah, ‘Ummati… ummati…’ (Umatku… umatku…). Beliau memikirkan bagaimana nasib keimanan dan keselamatan kita setelah beliau tiada,” terang Ustadz Ahyar Saragih (UAS).
Selanjutnya UAS menyampaikan,
setiap Nabi memiliki satu doa yang pasti dikabulkan secara instan oleh Allah SWT di dunia. Nabi-nabi lain telah menggunakan doa mustajab tersebut. Namun, Rasulullah SAW sengaja menahan dan menyimpan doa pamungkasnya untuk digunakan sebagai Syafaat (pertolongan) bagi umatnya di hari kiamat/penghisaban kelak.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, beliau bersabda: “Setiap Nabi mempunyai doa yang mustajab, maka setiap Nabi telah menyegerakan doanya. Dan sesungguhnya aku menyimpan doaku untuk memberikan syafaat bagi umatku di hari kiamat.”
Dalam sebuah hadis (HR. Muslim), sebut UAS, Rasulullah SAW pernah membaca ayat-ayat Al-Qur’an tentang keluhan Nabi Ibrahim dan Nabi Isa AS mengenai umat mereka. Setelah itu, Rasulullah SAW mengangkat kedua tangannya dan menangis sambil berdoa, “Ya Allah, umatku, umatku!”
Melihat hal itu, Allah SWT mengutus Malaikat Jibril untuk menanyakan mengapa beliau menangis (meski Allah sudah mengetahuinya). Jibril lalu menyampaikan firman Allah kepada Nabi: “Wahai Muhammad, sesungguhnya Kami akan membuatmu ridha (puas) dalam urusan umatmu dan Kami tidak akan mengecewakanmu.”
Selain itu, papar UAS, beliau Rasulullah SAW tidak tega memberatkan umatnya.
Banyak sekali hukum atau ibadah yang sebenarnya ingin beliau perintahkan, namun dibatalkan atau diringankan semata-mata karena beliau tidak ingin menyusahkan umatnya.
“Salah satu contoh sabdanya: ‘Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak (membersihkan gigi) setiap kali hendak shalat,” ungkap Ustadz Ahyar Saragih (UAS) mengutip hadis yang diriwayatkan Bukhari & Muslim.
Keagungan akhlak dan besarnya rasa cinta beliau inilah yang membuat umat Islam, tegas UAS, wajib mencintai Rasulullah SAW melebihi diri sendiri, orangtua, anak, dan lainnya.
“Rasa cinta itu bukan sekadar ucapan, melainkan dibuktikan dengan cara menghidupkan sunnah-sunnah beliau dan menaati ajarannya dalam kehidupan sehari-hari kita,” tutup Ustadz Ahyar Saragih pada peringatan Maulid yang digelar Remaja Masjid Al-Amin dan berlangsung meriah namun khidmat tersebut.*** (Zulmar)
