Medan/Sumut Perlu Belajar, Begini Solusi Anies Baswedan terkait kehadiran Bus Listrik
JAKARTA: koranmedan.com.id
Solusi utama dari Anies Baswedan saat menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta untuk mengatasi gesekan antara supir angkutan kota (Angkot) dan perluasan jangkauan Bus Listrik Transjakarta adalah dengan menghadirkan program integrasi transportasi bernama JakLingko (yang awalnya diluncurkan dengan nama OK Otrip).
Melalui konsep ini, Angkot tidak diposisikan sebagai saingan atau korban penggusuran rute Transjakarta, melainkan dijadikan sebagai pengumpan (feeder) resmi yang masuk ke dalam ekosistem PT Transportasi Jakarta di bawah armada Mikrotrans.
Berikut poin-poin solusi konkret yang ditawarkan melalui skema JakLingko tersebut:
1. Perubahan Sistem Pendapatan (Berdasarkan Kilometer, Bukan Setoran)
Sebelum integrasi ini, supir angkot kerap mengeluhkan penurunan pendapatan akibat tersedotnya penumpang oleh Transjakarta, yang memicu supir angkot sering “ngetem” sembarangan demi mengejar setoran.
Solusinya: Pemprov DKI mengubah skema bisnis. Pendapatan pemilik dan supir Angkot tidak lagi dihitung berdasarkan jumlah penumpang yang naik, melainkan dibayar oleh Pemprov DKI berdasarkan jumlah kilometer jarak tempuh harian armada per hari (layanan rupiah per kilometer).
2. Kepastian Gaji Bulanan bagi Supir Angkot
Dengan masuk ke dalam manajemen koperasi yang terintegrasi Transjakarta, para supir angkot tidak perlu lagi menanggung risiko rugi saat sepi penumpang. Mereka mendapatkan kepastian penghasilan bulanan yang setara atau mendekati Upah Minimum Provinsi (UMP), jaminan kesehatan, serta waktu kerja yang lebih teratur.
3. Integrasi Tarif dan Efisiensi Rute (Rerouting)
Untuk mencegah angkot dan bus Transjakarta saling berebut penumpang di jalur yang sama, dilakukan penataan ulang rute (rerouting).
Bus besar Transjakarta melayani koridor utama (main trunk), sementara Angkot JakLingko masuk ke wilayah permukiman warga atau jalan sempit yang tidak bisa dilalui bus besar.
Penumpang diuntungkan karena biaya perjalanan menjadi jauh lebih murah melalui skema integrasi tarif kartu JakLingko (bahkan gratis atau Rp0 untuk naik Mikrotrans). Hal ini secara otomatis meningkatkan volume masyarakat yang mau naik angkot kembali untuk menuju halte Transjakarta terdekat.
4. Peremajaan Armada tanpa Mematikan Koperasi Lokal
Anies tidak menghapus keberadaan koperasi Angkot swasta yang sudah ada sejak lama (seperti KWK, Mikrolet, Koperasi Budi Luhur, dll). Solusi yang diambil adalah merangkul koperasi tersebut untuk menjadi mitra operator resmi. Pemilik Angkot difasilitasi untuk meremajakan kendaraan lama mereka menjadi unit Mikrotrans baru yang memiliki standar fasilitas lebih baik, seperti pendingin udara (AC), sabuk pengaman, dan kamera pengawas (CCTV). *** (Zulmar)
