Bercocok tanam di sekitar rumah, mengapa tidak?
Peduli Ketahanan Pangan, Saatnya Bercocok Tanam di Sekitar Rumah
Catatan: Zul Anwar Ali Marbun, Wartawan Koranmedan.com.id
Semalas-malasnya warga negara Republik Indonesia, diyakini masih bisa bercocok tanam di wadah bahan plastik yang terbuang di sekitar rumah dengan mengisinya dengan daun kering dicampur tanah/lumpur comberan lalu menggantungnya di dinding bagian luar rumah, di teras dan meletakkanya di rooptop atau atap rumah. Wadah tersebut bisa ditanami batang ubi, bawang, cabai, seledri, tomat, pucuk jalar ubi rambat, dan lain-lain. Di dalam ember atau bekas galon air juga bisa memelihara ikan lele dengan ketersediaan pakan dari maggot yang diproduksi dari limbah organik. Bahkan dipojokan rumah yang lembab sekalipun bisa menyusun gulungan serbuk kayu dibungkus plastik untuk menumbuhkan jamur tiram. Di China/Tiongkok sudah ada warga menanam padi di Rooptop atap rumah yang dicor Semen. Sementara di Bangladesh, warga sudah bercocok tanam di atas rumput rawa dan enceng gondok apung yang kering.
Jika melakukan hal itu saja tidak mau, maka bersiap-siaplah membeli sumua bahan pangan dan menjadi pengemis di pinggir jalan.
Bagi yang waras tapi tak memiliki rumah atau pondok, masih bisa menjadi buruh tani atau menyewa tanah dengan sistem bagi hasil. Ini merupakan gambaran dari seburuk-buruk keadaan seseorang yang hidup di bumi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
***
Suatu ketika, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan taklimat pada Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah Tahun 2026 di Sentul International Convention Center (SICC) Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat pada Senin, 2 Februari 2026.
Presiden Prabowo Subianto memaparkan arah besar pembangunan nasional melalui strategi transformasi bangsa. Strategi tersebut bertujuan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara maju modern dengan tolok ukur utama peningkatan kualitas hidup seluruh rakyat.
“Kita tidak bermimpi untuk menjadi high income country. Kita tidak bermimpi kita mau hidup seperti Norwegia atau Kanada. Kita hanya mau supaya semua rakyat kita hidup, kualitas hidupnya baik. Artinya, makan harus cukup sehat, kesehatannya harus dijamin, anak-anaknya harus sekolah dengan baik. Dia punya penghasilan yang cukup,” ucap Presiden Prabowo.
Presiden menjelaskan bahwa strategi tersebut dijalankan melalui delapan misi Asta Cita, 17 program prioritas, serta program hasil terbaik cepat. Lebih lanjut, Kepala Negara menempatkan swasembada pangan dan swasembada energi sebagai pilar utama.
“Kalau bisa saya ringkas, lebih sederhana, yaitu pondasi pertama kita, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus swasembada pangan. Swasembada pangan, tidak ada alternatif. Kalau kita mau merdeka, kalau kita mau sejahtera, kita harus jamin produksi pangan sehingga pangan bisa dinikmati oleh seluruh rakyat kita. Swasembada atau ketahanan pangan adalah syarat, itu adalah pilar yang utama dari strategi,” tegas Kepala Negara.
Sementara pada sektor energi, Presiden Prabowo menyampaikan bahwa kemandirian energi merupakan pilar penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan. Pemerintah pun terus mendorong optimalisasi sumber daya nasional agar Indonesia tidak bergantung pada pihak luar.
***
Berangkat dari gambaran itu, memang selayaknyalah setiap warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tanggap, responsif dan peduli terhadap ketahanan pangan, terlebih di tengah perubahan iklim dan gejolak pasar global.
Belajar dari krisis moneter 1988 di mana nilai Rupiah anjlok terhadap dolar AS, para petani duduk manis memetik panen untuk dikonsumsi dan sebagian dijual dengan harga mengikuti kurs dolar dan tidak terjebak inflasi. Begitu nikmat jadi petani.
Lalu mengapa masih banyak warga NKRI ogah bercocok tanam? Padahal bercocok tanam bagian dari ibadah dalam tinjauan Islam, bahkan menjadi sedekah jariah.
Berikut upaya serius menjadi petani sukses berkemajuan sebagai tips dari penulis.
Menjadi petani sukses di era modern memerlukan kombinasi antara manajemen bisnis yang matang, penerapan teknologi (smart farming), dan pemahaman pasar. Pertanian tidak lagi sekadar menanam, melainkan sebuah ekosistem kewirausahaan yang terukur.
Bagaimana langkahnya?
Menentukan Komoditas dan Analisis Pasar
Jangan menanam hanya karena ikut-ikutan. Analisis komoditas apa yang memiliki permintaan tinggi namun suplainya stabil atau kurang, seperti buah organik, sayuran hidroponik, atau varietas unggul seperti beras biofortifikasi.
Kemudian pelajari masa panen, biaya produksi, harga jual rata-rata, dan ketahanan komoditas terhadap cuaca serta hama.
Menguasai Teknis dan Inovasi Budidaya
Lakukan pengecekan kualitas tanah dan kecocokan iklim. Sebagai contoh, menanam varietas khusus seperti padi Basmati Pakistan memerlukan penyesuaian irigasi dan perlakuan tanah tertentu jika diadaptasikan di luar wilayah asalnya.
Selain itu, kurangi ketergantungan pada bahan kimia sintetis. Petani bisa menghemat modal sekaligus menjaga ekosistem dengan membuat probiotik mikroorganisme lokal (MOL) sendiri untuk pupuk alami dan pembenah tanah.
Selanjutnya pertimbangkan sistem pertanian terpadu. Misalnya, mengombinasikan limbah pertanian untuk budidaya maggot sebagai pakan alternatif, atau memanfaatkan pekarangan rumah untuk budidaya ikan bernilai tinggi seperti gurami.
Mengadopsi Teknologi dan Mekanisasi
Efisiensi Kerja
Gunakan alat mesin pertanian (Alsintan) modern untuk mempercepat proses olah tanah, tanam, hingga panen untuk menekan biaya tenaga kerja.
Manfaatkan teknologi digital, mulai dari aplikasi prediksi cuaca, sensor kelembaban tanah, hingga sistem irigasi pintar untuk meminimalkan risiko gagal panen.
Manajemen Keuangan dan Risiko
Perlakukan perkebunan atau peternakan
Anda sebagai perusahaan. Pisahkan uang pribadi dengan uang operasional tani secara ketat.
Investasikan keuntungan pada infrastruktur pelindung (seperti greenhouse atau jaring hama) dan pertimbangkan asuransi pertanian untuk melindungi modal Anda dari bencana alam.
Membangun Jaringan dan Skala Pasar
Sebisa mungkin jual hasil panen langsung ke konsumen akhir, restoran, swalayan, atau melalui platform e-commerce untuk mendapatkan margin keuntungan yang lebih tinggi.
Bergabung dengan Kelompok Tani menjadi pilihan tepat. Jaringan ini sangat berguna untuk berbagi ilmu, mempermudah akses bantuan benih/pupuk bersubsidi dari pemerintah, serta memperkuat posisi tawar saat menjual hasil panen dalam skala besar.
Semoga bermanfaat.***
