
Zikir secara istilah mengandung dua makna yakni pertama zikir sebagai kegiatan kerohanian berbentuk kata-kata (kalimah) yang diucapkan dengan lisan atau dikatakan dalam hati / mata hati (fuad, lub).
Zikir disebut juga dalam kajian metafisika biologi anatomi jantung sinoatrial node. Misalkan lisan mengucapkan, atau hati mengatakan: Alhamdulillah, Subhanalloh, Astaghfirulloh, dan menyebut Asmaul Husna nama – nama Alloh.
Kedua zikir sebagai kegiatan fisik yang selalu dihubungkan dengan Alloh (makrifatulloh). Contohnya pergi mengaji, mendengarkan ceramah tausyiah, menunaikan sholat, ibadah puasa dan menunaikan ibadah haji, bekerja mencari nafkah serta pergi kerumah saudara, sahabat dan handai taulan semata karena Alloh.
Seluruh rangkaian kegiatan yang dimaksudkan perharinya bertujuan untuk mencari ridho Alloh semata.
Dalam membahas hubungan zikir dan fisika energinya maka kita perlu mengetahui terlebih dahulu konsep dasar yang ditawarkan oleh fisika mekanika bahwa setiap benda yang bergerak atau diam akan memiliki atau mengeluarkan energi.
Jika pergerakannya lambat, maka benda itu masih terlihat wujud aslinya dan energi yang dikeluarkan kasar sebaliknya jika pergerakannya cepat dan sangat cepat terlebih lagi melebihi kecepatan cahaya yaitu sekitar tiga ratus juta m/detik2.
Maka wujud bendanya pun tidak tampak wujud aslinya dan energi fisikanya pun dikeluarkan semakin besar dan tidak tampak pula oleh mata kepala kita.
Zikir Alloh…berulang-ulang yang kita ucapkan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat. Karena Zikir itu sendiri adalah sebuah energi.
Semakin cepat pergerakan benda itu, maka energi yang dikeluarkan semakin halus dan tidak tampak pula tetapi sangat kuat energinya.
Jika orang yang berzikir kita sebut saja pezikir selanjutnya ingin membuat zikir menjadi berenergi yang sangat kuat dan dahsyat, maka pezikir dipersilakan untuk mentransformasikan zikirnya menjadi zikir bergerak menuju energi cahaya.
Kecepatannya menuju tidak terhingga sehingga dapat menarik apa yang pezikir inginkan. Manakala kita bisa menyelaraskan diri menuju kehendak dan kehadirat (qudrat & iradat) Alloh. Hal ini bisa dilakukan dan diselaraskan dalam diri pezikir melalui latihan suluk untuk membuka mata batin (Bashirah).
Menurut ahli Tasawuf, Ibnu Athaillah As-Sakandari, zikir yaitu upaya membebaskan diri dari lalai dan lupa dengan merasakan kehadiran Alloh, sambil terus mengulang-ulang nama Alloh dengan bersuara maupun hanya dalam hati atau tersembunyi (khofi).
Pelaksanaan zikir khusus adalah jika pelaksanaannya sudah menggunakan pikiran bawah sadar (under consciousness) yakni dengan mengingat secara fokus untuk bervisualisasi, maka ia disebut “zikir”, maka zikir inilah yang disebut “zikir khusus “.
Bahkan, kata apapun yang kita ucapkan sesungguhnya juga bisa juga menjadi energi. Kalimat yang keluar dari mulut kita adalah energi yang bermanfaat atau mudharatnya kembali pada diri kita juga. Kalimat baik akan mendatangkan energi positif, dan kalimat buruk juga akan mendatangkan energi negatif.
Justeru itu percayalah, mari kita sama-sama merenung apabila ada orang berkata-kata buruk atau mengucapkan kalimat yang menyakiti orang. Maka orang tadi akan menarik energi negatif masuk ke dalam dirinya. Sepanjang orang tadi belum melepaskannya, pikirannya tidak akan fokus dan hatinya tidak akan merasakan ketenangan.
Karena itu segeralah lepaskan energi negatifnya dengan meminta maaf kepada orang yang bersangkutan. “Maafkan saya ya ! Saya sangat menyesal dan Terima kasih ya. Saya mengasihi Anda “.
Dari dalil kedahsyatan zikir Alloh telah disampaikan Rasululloh yang berguna bagi kelangsungan hidup kita di dunia. Beliau bersabda :
” Selagi dunia ini masih ada orang yang mengucapkan lafazh Alloh, maka dunia ini tidak akan kiamat.”
Lafazh Alloh yang diucapkan terbukti menjadi sebuah energi yang sangat dahsyat yang mampu menahan kehancuran dunia. Oleh karena itulah maka kita diperintahkan Alloh untuk berzikir sebanyak-banyaknya.
Apakah sambil berdiri, duduk maupun berbaring. Di pagi hari maupun di sore hari seperti dalam firman Alloh dalam QS. Ali Imran / 3: 41 yang artinya :
“Dan berzikirlah menyebut Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu pagi dan petang hari”. Kemudian dalam QS. Al-Baqarah / 2: 152 yang artinya Artinya : “Maka berzikirlah kamu kepada-Ku niscaya Aku akan ingat pula denganmu, dan bersyukurlah kepada-Ku. Janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”
Selanjutnya dalam QS. Al-Ahzab / 33: 35 yang artinya : “Laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir menyebut nama Alloh, Alloh telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
Fadhilah Zikir
Dengan demikian pezikir selalu berada dalam posisi yang sangat menguntungkan. Sebab menurut konsep keagungan zikir, fadhilahnya dan keutamaan kalimah thayyibah Alloh kalau diamalkan pezikir bisa membentengi dirinya. Meraih segala apa yang diharapkan, akan lapang hidupnya dan akan cerdas pula.
Diharapkan pezikir janganlah sekali-kali berhenti untuk berzikir, karena zikir menjadi energi yang menguatkan energi pezikir sendiri. Melalui proses berzikir, pezikir telah membuka pintu untuk menyelaraskan raga, alam semesta yang penuh dengan karunia Alloh.
Sehingga hidup dalam keseimbangan karena berjuta-juta dan bahkan bermiliar-miliar sel dalam tubuhnya saling berinteraksi dan bersinergi sehingga mencapai kondisi yang damai dan harmonis dalam diri dengan lingkungannya serta dalam hidup dan kehidupan ini.
Nantinya pezikir akan sampai pada sebuah tempat yang sangat mulia di sisi Alloh sebelum para ilmuan sampai disana. Pezikir telah sampai, tinggal meminta izin untuk mengambil apa yang menjadi keinginannya.
Hal demikian seperti dikatakan Rasululloh Sollollohu ‘Alaihi Wa Sallam (SAW) dalam sabdanya yang artinya : “Telah sampai lebih dahulu al-mufarridun, yaitu laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir”.
Orang- orang yang mengaku berperang pada ilmu dan logika, tidak pernah sampai kesana, karena mereka terus berdebat membenarkan pendapatnya sendiri dan menyalahkan orang yang tidak sejalan dengannya.
Pezikir cukuplah dengan keyakinannya, mereka sampai pada yang dituju. Kalau sampai hari ini pezikir masih belum menikmati indahnya zikir dan belum merasakan keajaiban zikir. Maka setelah pezikir menggunakan teknologi menggunakan bashirah, pezikir akan segera merasakan hasilnya.
Jika bashirah (mata batin) telah terbuka dan pezikir bisa menyelaraskan diri dengan energi semesta alam, serta larut dalam nama Alloh. Maka tidak ada yang mustahil bagi pezikir. Alloh akan mengiyakan apa yang pezikir yakini dalam mewujudkan untuknya.
Dalam hadits qudsi, Alloh berfirman yang artinya : “Aku selalu berada dalam keyakinan hamba-Ku. Aku selalu bersamanya saat dia mengingat-Ku. Jika dia mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika dia mengingat-Ku di keramaian, Aku akan mengingatnya di tengah keramaian yang lebih baik darinya. Jika dia bergerak mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku akan bergerak mendekatinya satu hasta. Jika dia mendekati-Ku satu hasta, Aku akan bergerak mendekatinya sepanjang tangan. Jika dia mendekat kepada-Ku dengan berjalan, Aku akan mendekat kepadanya dengan berlari.” (HR. Muslim).
Apa yang ingin pezikir capai dan apa ingin diraih dari Alloh tergantung keyakinan pezikir. Kalau kita yakin dan mampu memvisualisasikan dengan gamblang, maka keyakinan itu langsung menjadi kenyataan ada pada diri kita.
Kalau kita yakin dan memvisualisasikan adanya kekuatan yang mengusir penyakit dari dalam diri kita, penyakit itu benar-benar keluar dari dalam diri kita. Kalau kita yakin dan memvisualisasikan sebuah kekuatan dari nama Alloh, maka Alloh masuk kedalam diri kita. Kekuatan Alloh itu ada di dalam diri kita dan menjadi energi yang sangat luar biasa dahsyatnya.
Pelaksanaan zikir khusus yang sudah kita bicarakan di atas adalah zikir secara umum dan bisa dilakukan oleh siapa saja, dimana saja dan kapan saja. Apakah dengan berdiri, duduk, maupun berbaring. Namun jika kita menelusuri beberapa hadist, Rasululloh Sollollohu ‘Alaihi Wa Sallam sering mengajarkan zikir secara khusus kepada sahabat-sahabat-Nya.
Zikir Khusus
Zikir khusus adalah zikir yang dilakukan dalam waktu khusus, tempat khusus dan situasi yang khusus. Artinya, untuk berzikir itu seseorang menyiapkan dirinya secara total. Dia berzikir dengan seluruh raga, roh, jiwa dan akal / fikirannya.
Dalam sebuah hadist qudsi Alloh berfirman yang artinya : “Wahai anak Adam ! siapkan secara khusus waktu untuk beribadah kepada-Ku, maka Aku akan penuhi dada kalian dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhan kalian. Jika kalian tidak bisa melakukannya, maka Aku buat tangan kalian sibuk dan tidak Aku penuhi kebutuhan kalian (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Jami At-Timidzi)”.
Seandainya pezikir membaca dan menelusuri zikir yang dilakukan oleh ahli tarekat tasawuf, juga akan menemukan cara zikir khusus. Mengapa mereka melakukannya dengan cara yang berbeda ?
Bukankah zikir itu bebas ? Apakah tidak memberatkan? Disini penulis jelaskan bahwa soal teknik atau cara tidak lain dimaksudkan untuk membuat zikir itu bisa efektif dan efisien serta meresap dalam roh, jiwa, dan akal.
Sekali kita mencoba dan tahu, kita tidak akan mengatakan cara itu memberatkan diri. Berat hanya dirasakan oleh orang yang tidak punya kemauan. Ringan bagi orang yang punya himmah kuat. Memang Rasululloh Sollollohu ‘Alaihi Wa Sallam mengajarkan zikir secara umum kepada sahabat-sahabatnya.
Akan tetapi di balik yang umum itu, ternyata Rasululloh juga mengajarkan secara khusus kepada Abu Bakar As-Siddiq dan Ali Bin Abi Thalib. Mengapa hanya pada Abu Bakar dan Ali Bin Abi Thalib saja ?
Karena mereka berdualah yang lebih banyak selalu bersama Rasululloh. Mereka berdua mempunyai tempat yang sangat khusus di hati Rasulullloh. Ali adalah anak angkat dan menantu Rasululloh. Sedangkan Abu Bakar mertua sekaligus orang yang menjadi teman dalam suka dan duka beliau.
Zikir walau kalimatnya sama yang ditempuh oleh ahli Tarekat sebenarnya bisa dikatakan zikir khusus. Karena mereka mengikuti cara ditempuh oleh sahabat Abu Bakar As-Siddiq dan Ali Bin Abi Thalib. Keduanya telah mendapatkan pelajaran zikir secara khusus.
Adapun cara zikir khusus yang diajarkan oleh Rasululloh Sollollohu ‘Alaihi Wa Sallam ialah sebagai berikut : Zikir Ali Bin Abi Thalib,yaitu dengan nafyi dan isbat (meniadakan dan menetapkan): Laa ilaaha ( Tiada Tuhan selain Alloh ) = Meniadakan Tuhan. illa-Alloh (Kecuali Alloh) = menetapkan Alloh sebagai Tuhannya.
Tarekat ini kemudian disebut “Tarekat Alawiyah “. Zikir Abu Bakar As-Siddiq, yaitu dengan hanya menyebut ” Alloh ” secara mufrad (sendirian), atau dengan menyebut nama-nama Alloh (Asmaul Husna) satu persatu. Tarekat ini kemudian disebut “Tarekat Bakariyah”. Semoga bermanfaat. ***
(Penulis adalah Dosen Fisika FMIPA USU Medan S-1 (Fisika Instrumentasi-USU), S-2 (Fisika Bahan UI), S-3 (Metafisika Tasawuf UniSZA -Malaysia).